JAKARTA — Sektor peternakan dinilai memegang peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, sektor ini juga menghadapi tantangan berlapis, mulai dari keterbatasan sumber daya, tekanan terhadap lingkungan, hingga dampak perubahan iklim.
Karena itu, pengelolaan industri peternakan perlu diarahkan agar sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Pemanfaatan teknologi dan inovasi menjadi salah satu faktor yang dipandang penting untuk mendukung tujuan tersebut.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, inovasi dan teknologi dapat membantu industri peternakan berjalan lebih berkelanjutan. Ia menyoroti tudingan terhadap sektor peternakan sebagai penyumbang perubahan iklim akibat emisi gas metana, namun menilai dampak tersebut dapat ditekan melalui riset dan inovasi.
“Sektor peternakan sering dituduh sebagai penyumbang dampak perubahan iklim akibat emisi gas metana yang dihasilkan. Akan tetapi, kita bisa, dengan riset dan inovasi, mengurangi gas metana yang dihasilkan. Dengan riset inovasi kita bisa mengantisipasi perubahan iklim sekaligus mencapai ketahanan pangan,” ujar Arif di sela acara “International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation” di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Arif menjelaskan, sejumlah inovasi telah dikembangkan di sektor peternakan, antara lain bibit ternak unggul untuk meningkatkan produksi susu dan hasil ternak lainnya, serta inovasi pengelolaan limbah ternak secara terpadu.
Ia juga mendorong transformasi peternakan yang berbasis sains, inklusif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menurut Arif, langkah tersebut dapat dilakukan melalui penilaian siklus hidup (life cycle assessment/LCA), pemodelan lingkungan dan ekonomi terintegrasi, sistem peternakan berbasis data dan digital, serta penguatan rantai pasok berkelanjutan.
“Mari kita selaraskan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan investasi untuk mengubah sektor peternakan menjadi penggerak ketahanan gizi global dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi kebijakan, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Nunung Nuryartono menekankan pentingnya sains sebagai dasar utama pengambilan keputusan, termasuk dalam pengembangan sektor peternakan. Menurut dia, kebijakan publik perlu dibangun berbasis bukti ilmiah agar solusi yang dihasilkan tepat dan berkelanjutan.
Nunung menilai penguatan riset dan jejaring ilmu pengetahuan menjadi kunci agar kebijakan yang disusun lebih efisien, aplikatif, dan adaptif terhadap perubahan iklim serta dinamika ekologi. Ia menyebut penguatan ekosistem kebijakan untuk transformasi peternakan berkelanjutan telah disusun melalui penerapan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) dan perlindungan keanekaragaman hayati, yang didukung fondasi ilmiah, termasuk pengembangan sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi.
“Setiap kebijakan dan aktivitas harus memiliki indikator yang jelas dan terukur, seperti capaian penurunan emisi metana dan peningkatan ketahanan pangan. Tanpa itu, kita tidak dapat menilai efektivitasnya,” ujar Nunung.
Dalam kesempatan yang sama, Asisten Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Thanawat Tiensin menyampaikan bahwa sektor peternakan berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan menjadi pendorong perekonomian masyarakat. Meski demikian, ia menilai tantangan di sektor ini kian kompleks, seiring meningkatnya permintaan pangan hewani, sementara dampak perubahan iklim, penyakit pada hewan, serta tekanan lingkungan juga membesar.
Thanawat menegaskan kebutuhan transformasi sektor peternakan, termasuk penerapan pendekatan One Health yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk mencegah risiko penyakit, resistensi antimikroba, dan tantangan iklim secara lebih optimal.
“Dunia membutuhkan visi bersama, tanggung jawab kolektif, dan pendekatan One Health sebagai solusi menyeluruh untuk transformasi peternakan yang berkelanjutan. Sains dan inovasi menjadi kunci untuk memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencarian masyarakat,” tutur Thanawat.
FAO, lanjutnya, mendorong penerapan Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). GLEAM digunakan untuk menilai dampak lingkungan dari produksi ternak, seperti emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan dan air, serta penggunaan teknologi dalam produksi ternak. Adapun LEAP menjadi pedoman untuk menilai kinerja lingkungan dan keberlanjutan sistem peternakan, termasuk panduan teknis dan metodologi standar untuk menilai dampak lingkungan serta mendorong praktik keberlanjutan seperti ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah ternak.
Asisten Perwakilan FAO Indonesia Ageng Herianto mengatakan, Indonesia dapat mengadopsi praktik peternakan berkelanjutan yang telah diterapkan di sejumlah negara Eropa, salah satunya melalui pengolahan limbah menjadi pupuk organik dalam sistem ekonomi sirkular. Menurut dia, praktik serupa sudah berjalan di Indonesia, tetapi belum optimal, terutama pada industri peternakan skala kecil yang masih menghadapi keterbatasan akses teknologi.
Ageng menilai industri besar umumnya sudah mampu mengadopsi teknologi, sementara peternak skala kecil masih membutuhkan dukungan. “Karena itu, dukungan pemerintah dan sektor lain dibutuhkan, terutama lewat regulasi yang memadai, akses terhadap teknologi sederhana, dan insentif untuk penerapan inovasi,” kata Ageng.