Belanja riset nasional Indonesia pada 2024 tercatat mencapai Rp50,27 triliun. Namun, porsi terbesar pengeluaran tersebut bukan berasal dari dunia usaha, melainkan dari sektor pendidikan tinggi.
Data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam laporan Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia 2025 menunjukkan sektor pendidikan tinggi menyumbang 71,02 persen dari total belanja riset nasional. Sementara kontribusi badan usaha atau industri berada di angka 14,96 persen.
Komposisi ini menggambarkan bahwa aktivitas riset di Indonesia masih lebih banyak bergantung pada perguruan tinggi dan pemerintah dibandingkan sektor industri. BRIN menilai keterlibatan industri penting untuk mendorong inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat maupun pasar.
BRIN juga mencatat belanja riset sektor industri mengalami penurunan 18,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian karena peran dunia usaha dinilai krusial dalam memperkuat hilirisasi hasil riset.
Dalam laporan yang sama, BRIN menyebut rasio belanja riset nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Expenditure on Research and Development (GERD) berada di sekitar 0,23 persen. Angka tersebut masih jauh dibanding negara-negara maju yang rata-rata telah berada di atas 2 persen dari PDB.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menargetkan agar pada 2029 mayoritas belanja penelitian dan pengembangan tidak lagi bergantung pada anggaran negara. Ia menilai idealnya 80 persen belanja litbang berasal dari sektor non-pemerintah atau swasta. “Belanja litbang seharusnya didominasi pihak swasta,” kata Handoko.
Rendahnya kontribusi industri terhadap riset nasional disebut berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain budaya riset perusahaan yang belum kuat, orientasi bisnis yang cenderung jangka pendek, serta kolaborasi yang belum optimal antara kampus, pemerintah, dan sektor usaha.
Selain itu, sebagian perusahaan di Indonesia dinilai masih lebih memilih membeli teknologi dari luar negeri dibanding mengembangkan riset sendiri. Kondisi tersebut berdampak pada lambatnya pertumbuhan inovasi lokal dan berlanjutnya ketergantungan terhadap teknologi asing.
BRIN menilai Indonesia memiliki potensi dari sisi sumber daya manusia. Jumlah SDM iptek nasional pada 2024 mencapai sekitar 398,23 ribu orang, meski sebagian besar masih berada di perguruan tinggi.
Situasi ini menunjukkan tantangan riset Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah penelitian, tetapi juga kemampuan menerjemahkan hasil riset menjadi produk, teknologi, dan inovasi yang digunakan industri serta masyarakat luas.