Malang — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah bertransformasi menjadi Innovation University. Apresiasi itu disampaikan Arif saat kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Malang, Sabtu.
Di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM, Arif menilai UMM sebagai perguruan tinggi swasta yang agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan motto UMM “Inovasi Mandiri dan Berdampak”, yang ia sebut menunjukkan tanda kuat transformasi kampus menuju Innovation University.
Arif menjelaskan, transisi menuju Innovation University menuntut perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau pembangunan laboratorium canggih. Kampus, kata dia, perlu memperkuat riset terapan (applied research) dan keterlibatan dengan industri (industrial engagement).
Ia menilai langkah agresif UMM menjalin kerja sama dengan industri penting untuk menjembatani fenomena Valley of Death, yakni kondisi ketika banyak inovasi dari kampus tidak berkembang karena tidak terserap kebutuhan pasar.
Dalam paparannya, Arif juga menekankan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, serta disrupsi teknologi, termasuk Agentic AI dan transisi energi. Ia mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN serta memanfaatkan skema pendanaan bersama.
Secara khusus, Arif menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan mineral kritis, seperti rare earth yang terkandung dalam lumpur Lapindo, dengan mempertimbangkan posisi UMM yang strategis di Jawa Timur.
Menanggapi apresiasi dan tantangan tersebut, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menyatakan UMM tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Ia menyebut UMM juga menyiapkan terobosan micro-credential serta unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek) untuk mengawal inovasi mahasiswa dan dosen agar dapat masuk ke sektor hilir.
Menurut Nazaruddin, UMM ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar dan memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik serta sesuai kebutuhan industri. Ia menilai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena didominasi sektor konsumsi.
Ia menambahkan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil—seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan—kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. Nazaruddin menyebut, peningkatan 1–2 persen menuju struktur ekonomi berbasis investasi yang ditopang riset dan inovasi dinilai dapat mendorong perubahan yang lebih cepat.
Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan mampu mempercepat hilirisasi riset, sehingga hasil penelitian tidak sekadar menjadi literatur, melainkan berkembang menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.