Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat menggelar Forum Perangkat Daerah Urusan Riset dan Inovasi Tahun 2026 pada Kamis (2/4). Forum ini diarahkan untuk menyelaraskan kebijakan riset dan inovasi guna mendorong transformasi ekonomi daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing melalui kolaborasi multipihak.
Kegiatan dibuka oleh Kepala BRIDA Sumbawa Barat, Mars Anugerainsyah. Forum tersebut disebut menjadi bagian penting dalam penyempurnaan Rancangan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Renja PD) yang akan menjadi fondasi penyusunan RKPD Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2027.
Dalam forum bertema “Transformasi Masa Depan Sumbawa Barat”, Mars Anugerainsyah memaparkan terobosan pengembangan klaster ekonomi baru pasca tambang. Program ini diwujudkan melalui demplot pertanian berteknologi tinggi di Balai Benih Utama Poto Tano yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru berbasis teknologi.
Sejalan dengan itu, Kepala BRIDA Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), I Gede Putu Aryadi, menyampaikan tiga prioritas utama kebijakan riset tingkat provinsi, yakni pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan melalui ekosistem industri, serta pengembangan destinasi wisata kelas dunia. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai instrumen hukum dan ekonomi untuk mendorong hilirisasi hasil riset.
Forum ini menjadi wadah diskusi lintas unsur, melibatkan perwakilan perangkat daerah, akademisi dari LPPM Universitas Mataram dan Universitas Cordova, serta inovator lokal pemenang lomba inovasi tahun 2024–2025. Turut hadir Tim Ahli Gubernur (TAG-P3K) Prayitno Basuki yang menguraikan lima fokus riset NTB, termasuk penguatan sumber daya manusia dan tata kelola untuk mendukung transformasi ekonomi berbasis pengetahuan.