JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dinilai memegang peran strategis dalam mendukung pengembangan riset industri kelapa sawit nasional. Hingga 2025, BPDP tercatat telah mendanai sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek dari hulu hingga hilir sektor sawit.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan pendanaan riset oleh BPDP menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri kelapa sawit Indonesia. “Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat,” ujar Tungkot dalam keterangan tertulis yang diterima VOI, Selasa, 7 April.
Menurut Tungkot, riset yang dibiayai BPDP mencakup beragam bidang, antara lain pengembangan material baru berbasis sawit dan biomassa bernilai tambah tinggi, hingga studi lingkungan perkebunan dan sertifikasi keberlanjutan untuk mendukung ekonomi sirkular.
Meski demikian, ia menilai tantangan besar masih muncul pada tahap implementasi hasil riset di sektor industri. Sejumlah penelitian disebut masih berhenti pada publikasi ilmiah dan belum diterapkan dalam praktik bisnis. “Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun,” katanya.
Tungkot mencontohkan riset mengenai penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit. Ia menyebut kajian terkait penyakit tersebut sudah cukup banyak, namun hingga kini belum ada kebijakan nasional yang mampu memberikan solusi secara komprehensif.
Ke depan, Tungkot menilai percepatan implementasi hasil riset diperlukan agar penelitian dapat berujung pada inovasi bisnis maupun kebijakan yang nyata bagi industri. Ia juga mendorong pergeseran paradigma riset dari pendekatan berbasis pasokan (supply-driven) menjadi berbasis kebutuhan pasar (market-driven).
Selain itu, ia menekankan riset sawit perlu menjawab tantangan global, termasuk isu keberlanjutan, peningkatan produktivitas, efisiensi industri, serta penciptaan produk dan pasar baru. “Secanggih apa pun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya,” ujarnya.