BERITA TERKINI
Belasan Desa di Ngada Belum Nikmati Listrik dan Internet, Sekolah Kesulitan Akses Dapodik

Belasan Desa di Ngada Belum Nikmati Listrik dan Internet, Sekolah Kesulitan Akses Dapodik

NGADA — Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu menyatakan masih ada sekitar 14 hingga 15 desa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang belum menikmati jaringan listrik dan internet. Keterbatasan infrastruktur dasar ini berdampak pada layanan publik, termasuk kegiatan pendidikan di sekolah.

Menurut Dhey, ketiadaan listrik turut memengaruhi kualitas sinyal dan konektivitas internet. Akibatnya, sejumlah sekolah kesulitan menjalankan proses pengisian data pokok pendidikan (dapodik) yang dilakukan secara daring.

“Ada kurang lebih 14 sampai 15 desa yang listriknya tidak ada, sehingga kemudian memengaruhi kualitas sinyal dan konektivitas,” kata Dhey di Bajawa, Senin (27/4/2026).

Salah satu sekolah yang belum tersentuh jaringan internet dan listrik adalah SDN Natartuak di Kecamatan Riung. Untuk penerangan, sekolah mengandalkan panel surya, namun penggunaannya terbatas. Panel surya tersebut disebut hanya cukup untuk menyalakan smartboard selama sekitar tiga jam.

Dalam kondisi mendesak, para guru harus mencari akses internet di lokasi tertentu yang berjarak sekitar 4 hingga 5 kilometer dari sekolah.

Kondisi serupa juga terjadi di SD Negeri Nggololoe di Desa Wangka, Kecamatan Riung. Smartboard yang diberikan pemerintah pusat belum bisa dimanfaatkan bukan karena rusak, melainkan karena tidak ada aliran listrik. Di sejumlah ruang kelas, sakelar, stop kontak, dan lampu telah terpasang, tetapi tidak berfungsi. Sekolah disebut memiliki genset, namun kondisinya rusak.

Dhey mengatakan pemerintah daerah tengah berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk PLN, untuk membangun infrastruktur jaringan listrik di sejumlah desa.

Selain persoalan listrik dan internet, Dhey juga menyinggung kondisi bangunan sekolah di Ngada. Dari total 187 sekolah dasar, sekitar seperempatnya masih dalam kondisi kurang memadai. Meski demikian, ia menegaskan tidak ada sekolah yang benar-benar berada dalam kondisi sangat buruk.

Sejumlah kendala yang ditemukan antara lain ruang kelas yang tidak lengkap, ruang guru yang kurang memadai, serta fasilitas pendukung seperti perpustakaan dan laboratorium yang belum mencukupi. Masalah lain meliputi mebel yang sudah tua, pintu rusak akibat penggunaan yang kasar, hingga tembok yang bolong. Dhey menyebut kondisi itu dipengaruhi kualitas bangunan yang kurang baik serta perilaku anak-anak yang kadang merusak fasilitas.

“Revitalisasi sekolah sedang diupayakan oleh pemerintah pusat, dengan harapan semua sekolah di Ngada dapat memiliki fasilitas yang memadai dalam tiga tahun ke depan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, disebutkan tim Kompas.com datang ke Ngada untuk menyalurkan 230 paket bantuan perlengkapan sekolah di lima sekolah dasar. Penyaluran bantuan dilakukan bekerja sama dengan Bank Mandiri, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Pemerintah Kabupaten Ngada, serta Plan Indonesia.