BERITA TERKINI
BBPMP Jatim Dorong Digitalisasi PAUD: Gawai Diarahkan untuk Pembelajaran Mendalam, Bukan Sekadar Hiburan

BBPMP Jatim Dorong Digitalisasi PAUD: Gawai Diarahkan untuk Pembelajaran Mendalam, Bukan Sekadar Hiburan

Langkah digitalisasi di satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jawa Timur kini diarahkan lebih terstruktur. Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur mendorong pendidik PAUD melakukan pergeseran paradigma: memanfaatkan teknologi bukan hanya sebagai sarana hiburan, melainkan sebagai instrumen pembelajaran mendalam (deep learning) yang tetap selaras dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Arah kebijakan ini menjadi fokus dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran PAUD yang digelar di Surabaya pekan ini. Salah satu inti penguatan yang ditekankan adalah kerangka kerja Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), yakni kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dengan metode mengajar serta materi pembelajaran, bukan sekadar mahir mengoperasikan perangkat.

Narasumber dari BBPMP Jawa Timur, Ireng, menegaskan bahwa digitalisasi pada jenjang PAUD memiliki batas yang jelas. Menurutnya, teknologi tidak dimaksudkan menggantikan interaksi fisik yang penting bagi anak, melainkan memperkaya stimulasi belajar.

“Kami di BBPMP berkomitmen memastikan bahwa digitalisasi ini tidak mencabut akar bermain sebagai kodrat anak. Guru adalah nakhodanya. Teknologi seperti Papan Interaktif Digital (PID) harus digunakan untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan tentu saja menggembirakan bagi anak,” ujar Ireng.

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang matang. Digitalisasi, kata dia, bukan otomatisasi yang menghilangkan sentuhan manusiawi, tetapi upaya meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi empati dalam proses mendidik.

TPACK untuk menjembatani perangkat dan kurikulum

Tantangan yang dihadapi dalam digitalisasi PAUD adalah menyelaraskan perangkat teknologi dengan kurikulum yang dinamis. Dalam konteks ini, TPACK diposisikan sebagai panduan agar guru mampu meramu konten digital—termasuk fitur seperti “Ruang Murid”—ke dalam aktivitas bermain yang memiliki tujuan belajar yang jelas.

Pakar PAUD dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kartika Rinakit, menilai deep learning pada usia dini akan muncul ketika anak mendapat ruang untuk bereksplorasi dan berefleksi. Ia menyebut teknologi dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu, misalnya melalui visual digital untuk menghadirkan fenomena alam atau cerita secara lebih hidup di kelas.

Target penguatan kompetensi ini mengarah pada tahap mahir (advancing), ketika guru mampu mengintegrasikan teknologi untuk mendukung delapan dimensi profil lulusan PAUD, termasuk penalaran kritis dan kreativitas.

Menjaga aspek pedagogis dan keseimbangan anak

Akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Wiwik Citra Pratiwi, mengingatkan bahwa teknologi hanya akan menjadi “cangkang” jika tidak disertai strategi mengajar yang kuat. Ia menekankan perlunya kepekaan guru untuk menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan harus dihentikan.

“Guru harus memiliki kepekaan untuk mengetahui kapan teknologi digunakan dan kapan harus diletakkan. Di UNS, kami terus meneliti bagaimana interaksi digital dapat memicu perkembangan sinapsis otak tanpa menyebabkan ketergantungan,” ungkap Wiwik. Menurutnya, TPACK dapat menjadi panduan agar proses pembelajaran tetap sehat dan seimbang.

Praktik di kelas: dari kekhawatiran menjadi momen ‘aha’

Implementasi gagasan ini juga diuji para praktisi. Salah satu guru dari KB Islam Taman Firdaus menceritakan penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) yang dinilai mampu memunculkan momen “aha” pada anak. Meski demikian, ia mengakui sempat ada kekhawatiran anak menjadi pasif.

Menurutnya, kunci penggunaan perangkat digital terletak pada persiapan yang rinci. Anak dibagi dalam kelompok kecil: sebagian berinteraksi dengan papan digital, sementara kelompok lain melakukan aktivitas fisik yang terkait dengan materi. Ia menambahkan, konten digital juga harus relevan dengan pengalaman sehari-hari anak, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada layar.

Keberlanjutan lewat Rencana Tindak Lanjut

Program bimtek ini tidak berhenti pada pelatihan. Para pendidik diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk diterapkan selama tiga bulan ke depan. Pakar PAUD dari UNS, Sri Kurnianingsih, menjelaskan RTL juga memuat pengimbasan kepada komunitas belajar (kombel) atau gugus PAUD lain di wilayah masing-masing.

“Kami ingin ilmu ini mengalir. Guru yang hadir memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi praktik baik kepada rekan sejawat di daerahnya masing-masing,” tegas Sri.

Evaluasi berkala akan dilakukan melalui unggahan dokumentasi praktik pembelajaran berbasis TPACK, sebagai upaya memastikan perangkat teknologi yang disediakan pemerintah benar-benar dimanfaatkan secara optimal.

Melalui sinergi antara kebijakan BBPMP Jawa Timur, dukungan akademisi, dan praktik guru di lapangan, digitalisasi PAUD diharapkan menjadi langkah yang terukur: memperkaya proses bermain-belajar, sekaligus menumbuhkan literasi teknologi, penalaran kritis, kreativitas, dan empati pada anak sejak dini.