Banyak orang menggunakan patokan sederhana saat memilih ponsel: semakin besar kapasitas baterai, maka semakin irit dan semakin lama daya tahannya. Namun, anggapan bahwa ponsel dengan baterai 6.500 mAh pasti lebih awet dibanding ponsel 5.000 mAh tidak selalu benar.
Dalam pembahasan terkait topik ini—yang juga menyinggung realme C100—dijelaskan bahwa daya tahan baterai ponsel tidak bisa dinilai hanya dari angka kapasitasnya. Ada sejumlah faktor lain yang ikut menentukan seberapa hemat sebuah perangkat menggunakan energi.
Salah satu hal yang disorot adalah soal satuan kapasitas baterai. Penyebutan kapasitas baterai ponsel dengan satuan mAh (miliampere-hour) dinilai kurang tepat secara teknis, karena mAh merupakan satuan arus listrik, bukan energi. Untuk menggambarkan energi yang tersimpan, satuan yang lebih tepat adalah Wh (watt-hour). Karena itu, pada perangkat seperti laptop, spesifikasi baterai umumnya menggunakan Wh yang dianggap lebih merepresentasikan kapasitas energi.
Meski begitu, penggunaan mAh pada ponsel disebut masih bisa dipahami. Alasannya, tegangan baterai ponsel relatif seragam, berada di kisaran 3,7 hingga 3,8 volt. Dengan rumus energi yang merupakan hasil perkalian tegangan dan arus, jika tegangan dianggap sama, maka perbandingan kapasitas lewat mAh masih dapat digunakan untuk membandingkan antarponsel.
Selain faktor teknis, ada pula pertimbangan lain yang dianggap memengaruhi penggunaan mAh: angka yang lebih besar dinilai terdengar lebih menarik bagi konsumen. Sebagai contoh, kapasitas 50 Wh bisa terdengar kecil, sementara jika dinyatakan sebagai 10.000 mAh akan terkesan lebih besar.
Kesimpulannya, mAh tetap praktis dan masih relevan untuk perbandingan sesama ponsel. Namun, kapasitas baterai yang besar tidak otomatis membuat sebuah smartphone lebih irit daya. Dalam materi yang dirujuk, disebutkan ada lima faktor yang memengaruhi hal tersebut, dan pembahasan detailnya disampaikan dalam video terkait.