BEIJING — Gelombang kepulangan talenta muda ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ke China dilaporkan terus meningkat pada 2025 hingga 2026. Tren ini sejalan dengan menguatnya ekosistem inovasi di dalam negeri serta dukungan kebijakan pemerintah yang mendorong riset dan pengembangan teknologi.
Fenomena tersebut tampak di sejumlah kota pusat inovasi, termasuk Hangzhou yang berkembang sebagai basis perusahaan-perusahaan teknologi baru. Peluang riset yang lebih besar, dukungan pendanaan, dan luasnya pasar domestik disebut menjadi pemicu utama kembalinya para profesional yang menempuh pendidikan di luar negeri.
Sejumlah talenta memilih pulang karena menilai peluang implementasi teknologi di China dapat berlangsung lebih cepat dan relevan dibandingkan di negara lain. Selain itu, kebijakan pemerintah pusat dan daerah dinilai memberikan insentif konkret bagi peneliti maupun pelaku rintisan (startup) untuk mengembangkan inovasi.
Di Hangzhou, misalnya, seorang peneliti yang sebelumnya menempuh pendidikan di luar negeri kini memimpin perusahaan teknologi berbasis antarmuka otak-komputer. Perusahaan tersebut berkembang dengan dukungan fasilitas riset, pendanaan, serta kemudahan administratif dari pemerintah setempat. Pola dukungan serupa disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat talenta global untuk kembali.
Data resmi menunjukkan bahwa pada 2025, lebih dari 500 ribu pelajar China yang menyelesaikan studi di luar negeri memutuskan pulang. Dalam jangka panjang, jutaan lulusan luar negeri telah kembali sejak beberapa dekade terakhir, dengan tren peningkatan yang disebut signifikan setelah 2012. Kondisi ini dipandang mencerminkan perubahan lanskap global, ketika pusat inovasi semakin berkembang di dalam negeri.
Daya tarik lain datang dari kekuatan pasar domestik. Skala industri dan kebutuhan teknologi yang besar memungkinkan inovasi segera diuji dan diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga pelaku riset dan industri memperoleh umpan balik lebih cepat serta peluang komersialisasi yang dinilai lebih tinggi dibandingkan pasar yang lebih terbatas.
Pemerintah China juga memperkuat strategi melalui penyediaan berbagai fasilitas, seperti hibah penelitian, pendanaan startup, insentif pajak, hingga dukungan perumahan. Di beberapa wilayah, talenta yang kembali bahkan dapat memperoleh bantuan dana hingga ratusan ribu yuan untuk memulai usaha atau proyek riset. Perguruan tinggi turut bersaing menarik tenaga ahli dengan menawarkan paket kompensasi kompetitif dan dukungan riset.
Ekosistem inovasi yang terintegrasi disebut mempercepat pertumbuhan sektor teknologi. Pusat-pusat riset dan kawasan teknologi menyediakan layanan terpadu yang memudahkan pendirian perusahaan, perekrutan tenaga kerja, hingga pengembangan produk. Dalam beberapa kasus, pemerintah daerah juga membantu perusahaan yang menghadapi kendala pendanaan atau kekurangan sumber daya manusia.
Tren kepulangan talenta ini dinilai tidak hanya mendorong pertumbuhan industri teknologi, tetapi juga memperkuat posisi China dalam persaingan global. Sejumlah bidang yang menjadi fokus pengembangan meliputi kecerdasan buatan, komputasi canggih, antarmuka otak-komputer, serta bioteknologi.
Ke depan, kebijakan pemerintah diperkirakan terus diperkuat melalui rencana pembangunan jangka menengah yang menitikberatkan pada kemandirian teknologi dan pengembangan industri masa depan. Dengan kombinasi dukungan kebijakan, pasar besar, dan sumber daya manusia berkualitas, arus balik talenta iptek diperkirakan berlanjut dan menjadi salah satu pendorong inovasi nasional.