BERITA TERKINI
APJATEL dan IFA Dorong Open Access Fiber, Berpeluang Tekan Tarif Internet

APJATEL dan IFA Dorong Open Access Fiber, Berpeluang Tekan Tarif Internet

Asosiasi Penyedia Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJATEL) berkolaborasi dengan International Fiber Alliance (IFA) untuk mendorong penerapan model Open Access Fiber. Skema ini dinilai dapat membuka peluang terciptanya tarif internet yang lebih kompetitif bagi masyarakat, seiring berkurangnya kebutuhan pembangunan infrastruktur jaringan yang berulang.

Dalam model open access, satu jaringan fiber optik dapat digunakan bersama oleh banyak penyedia layanan internet (ISP). Dengan pemakaian bersama tersebut, duplikasi pembangunan jaringan dapat ditekan, sementara biaya investasi yang selama ini menjadi salah satu penyebab mahalnya layanan internet berpotensi menurun.

Pemisahan infrastruktur dan layanan

Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk membangun fondasi infrastruktur digital yang lebih efisien dan terbuka. Ia mengatakan, pengalaman IFA selama 25 tahun di bidang open access global serta platform FOS RevOps menjadi modal untuk memperkuat ekosistem jaringan yang lebih siap menghadapi kebutuhan digital ke depan.

Selama ini, model bisnis telekomunikasi di Indonesia masih banyak bertumpu pada pembangunan jaringan secara terpisah oleh masing-masing operator. Pola tersebut membuat biaya investasi tinggi dan berdampak pada harga layanan yang relatif mahal bagi pengguna.

Melalui skema Open Access Fiber, kepemilikan infrastruktur dipisahkan dari layanan. Penyedia jaringan dapat fokus membangun dan mengelola fiber, sementara ISP menyewa kapasitas untuk melayani pelanggan. Skema ini juga dinilai dapat mengurangi pembangunan jaringan berlebih, menurunkan hambatan masuk bagi ISP baru, serta memperkuat persaingan harga dan kualitas layanan.

IFA: Open access sebagai pendekatan ekonomi

Chief Commercial Officer IFA Richard Watts menilai, open access bukan hanya solusi teknis, tetapi juga pendekatan ekonomi yang telah terbukti di berbagai negara. Ia menyebut penerapan jaringan akses terbuka di berbagai wilayah—dari Eropa, Afrika hingga Amerika Serikat—dapat berperan sebagai pendorong aktivitas ekonomi.

Fokus kerja sama APJATEL–IFA

Dalam kerja sama ini, APJATEL dan IFA akan memusatkan perhatian pada beberapa hal berikut:

  • Penyediaan platform open access: Mengintegrasikan platform manajemen Fiber Operating Services RevOps milik IFA ke dalam ekosistem jaringan anggota APJATEL.
  • Dukungan operasional dan teknis: Menawarkan skema kolaborasi fleksibel, mulai dari layanan fully managed, partially managed, hingga software-only sesuai kebutuhan penyedia jaringan.
  • Peningkatan kapasitas dan keandalan: Penguatan pemantauan 24/7, Network Operations Center (NOC), serta jaminan kualitas layanan untuk meningkatkan kinerja jaringan.
  • Penciptaan model bisnis baru: Membuka peluang pendapatan bagi pemilik infrastruktur melalui skema wholesale dan retail yang lebih terbuka, sekaligus mempermudah lebih banyak ISP beroperasi di atas jaringan fiber yang sama.

Selaras dengan agenda perluasan broadband

Dorongan terhadap open access fiber dinilai sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperluas penetrasi fixed broadband dan meningkatkan kualitas internet nasional, termasuk target kecepatan hingga 100 Mbps dalam beberapa tahun ke depan.

Wakil Ketua Umum I APJATEL M. Tri Prasetya menyatakan kerja sama ini diharapkan menjadi katalis percepatan penetrasi fiber optik di Indonesia serta mendukung terwujudnya Indonesia Digital yang lebih maju, merata, dan berdaya saing global.

Melalui kolaborasi antarpemilik jaringan dan penerapan pendekatan open access, industri berharap internet berkualitas tidak lagi identik dengan harga mahal, sekaligus memperkuat daya saing digital Indonesia di tingkat global.