Tren penggunaan gawai secara berlebihan di kalangan remaja memunculkan ancaman kesehatan yang kian serius, mulai dari nyeri leher kronis hingga perubahan postur tubuh. Kebiasaan menunduk dalam waktu lama saat menatap layar ponsel tidak hanya memicu pegal, tetapi juga berisiko mengubah struktur tulang belakang secara permanen bila tidak diantisipasi sejak dini.
Dalam siaran “Jaga Malam” di RRI Pro 2 Purwokerto, Senin (6/4/2026), dr. Arfelina Sugiarto, MD menjelaskan bahwa kepala manusia memiliki berat rata-rata sekitar 5 kilogram saat posisi tegak. Namun, ketika seseorang menunduk dengan sudut 45 derajat untuk melihat gawai, beban yang harus ditopang otot leher meningkat hingga sekitar 22 kilogram.
Ia menuturkan, beban tersebut ditahan secara konstan karena aktivitas melihat layar kerap disertai gerakan berulang seperti scrolling. Jika kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun sejak usia anak-anak, perubahan postur dapat terjadi secara otomatis saat memasuki usia 20-an, salah satunya menjadi bungkuk.
Kondisi yang populer disebut “text neck” ini kerap dianggap sepele karena dampaknya tidak selalu langsung terasa. Menurut dr. Arfelina, penanganan seperti obat oles atau pijat umumnya hanya meredakan keluhan sementara, bukan menyelesaikan masalah utama.
Ia menekankan bahwa akar persoalan terletak pada postur tubuh dan tekanan berlebih dari beban kepala terhadap bantalan tulang belakang (disk). Risiko jangka panjangnya antara lain munculnya “punuk” (hump) di pangkal leher serta penipisan bantalan tulang belakang yang terjadi lebih cepat seiring bertambahnya usia.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memicu nyeri saraf yang menjalar hingga tangan dan pinggang. Karena itu, ia menyarankan masyarakat menerapkan disiplin durasi penggunaan gawai sebagai langkah pencegahan.
“Idealnya, setiap 30 hingga 60 menit sekali kita harus berhenti, melakukan stretching atau peregangan, dan memposisikan gawai sejajar dengan mata agar leher tidak terus menunduk,” ujarnya.
Selain mengatur durasi, dr. Arfelina juga menyarankan relaksasi otot bahu serta menjaga jarak pandang layar sejauh panjang lengan. Langkah-langkah ini dinilai penting, terutama bagi generasi muda, untuk menghindari cacat postur dan nyeri kronis yang dapat menjadi lebih sulit ditangani di usia lanjut.