Melarang anak bermain gadget kerap memicu tantrum. Namun, orangtua diminta tetap konsisten menerapkan aturan agar anak tidak menjadikan tantrum sebagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A(K), menegaskan konsistensi merupakan kunci utama. Ia menilai, ketidakkonsistenan justru membuat anak semakin sulit diatur dan cenderung mengulangi perilaku yang sama.
Prof. Mei mencontohkan situasi ketika orangtua merasa lelah, lalu akhirnya memberikan gadget saat anak tantrum. Menurutnya, pola seperti ini dapat memperkuat perilaku tantrum karena anak belajar bahwa tangisan dan amukan bisa menjadi cara efektif untuk memperoleh akses gadget.
Karena itu, ia menekankan perlunya kesepakatan yang jelas antara kedua orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam menerapkan aturan penggunaan gadget. Jika aturan diterapkan berbeda-beda, anak dapat melihat adanya celah untuk tetap bermain gadget.
Saat anak tantrum, Prof. Mei juga menyarankan orangtua tidak terburu-buru menghentikan tangisan. Ia menyarankan agar anak dibiarkan meluapkan emosi selama tidak membahayakan diri dan keselamatannya. Pendekatan ini ditujukan agar anak belajar mengenali dan mengelola emosinya, sekaligus agar tantrum tidak menjadi “senjata” untuk mendapatkan gadget.
Selain menjaga konsistensi, orangtua dapat mengurangi ketergantungan gadget dengan mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain yang menarik. Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain membaca, menggambar, bermain bersama, serta memberikan contoh penggunaan gadget yang bijak di lingkungan keluarga.