Allbirds, perusahaan sepatu asal Amerika Serikat yang sempat populer di kalangan pekerja teknologi Silicon Valley, mengumumkan langkah bisnis besar dengan mengalihkan fokus menjadi perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI). Perubahan arah ini dilakukan di tengah kondisi perusahaan yang disebut sedang terpuruk.
Didirikan pada 2015, Allbirds dikenal lewat produk sneakers ramah lingkungan yang menggunakan bahan wol Merino dan serat kayu (eucalyptus). Perusahaan ini pernah berada di puncak popularitas hingga mencapai valuasi 4 miliar dollar AS dan melantai di bursa melalui initial public offering (IPO) pada 2021.
Namun setelah IPO, popularitas Allbirds menurun tajam hingga perusahaan menutup seluruh toko fisiknya. Pada 30 Maret, Allbirds mengumumkan penjualan perusahaan ke American Exchange Group dengan nilai 39 juta dollar AS (sekitar Rp 669 miliar), jauh di bawah valuasi yang pernah dicapai.
Dalam rencana transformasinya, Allbirds akan “lahir kembali” dengan identitas baru bernama Newbird AI. Meski demikian, penggunaan nama tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam rapat yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Mei, sebagaimana dirangkum dari Gizmo China.
Perusahaan juga menyepakati fasilitas pendanaan konversi senilai 50 juta dollar AS (sekitar Rp 858 miliar) dengan investor institusional. Skema ini berupa utang yang dapat dikonversi menjadi saham.
Dana tersebut disebut akan digunakan untuk membeli GPU. Dalam jangka panjang, Newbird AI menargetkan diri menjadi penyedia layanan GPU-as-a-Service (GPUaaS) serta solusi cloud berbasis AI yang terintegrasi penuh.
GPUaaS merupakan model bisnis yang berkembang seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI dan kelangkaan GPU secara global. Melalui skema ini, perusahaan—termasuk startup AI—dapat menyewa daya komputasi untuk menjalankan model mereka.
Dalam keterangan resmi, Allbirds menyatakan perusahaan akan memulai dengan mengakuisisi perangkat komputasi AI berkinerja tinggi dan berlatensi rendah, lalu menyediakan akses melalui skema sewa jangka panjang. Langkah ini ditujukan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang dinilai tidak dapat dilayani secara andal oleh pasar spot maupun hyperscaler.
Manuver Allbirds ini memantik perhatian karena dinilai ekstrem sekaligus langsung mengikuti tren “booming AI”. Situasi tersebut juga kembali memunculkan perdebatan mengenai potensi gelembung (bubble) AI, mengingat sejarah mencatat gelombang teknologi baru kerap memicu euforia korporasi.
Pada akhir 1990-an, tren serupa terjadi pada internet ketika banyak perusahaan menambahkan “.com” pada nama mereka, yang kemudian berujung pada gelembung dot-com. Pada 2010-an, tren beralih ke blockchain, salah satunya tergambar dari rebranding Long Island Iced Tea menjadi Long Blockchain, yang pada akhirnya dihapus pencatatannya oleh otoritas pasar modal AS, SEC, pada 2021.
Di pertengahan 2020-an, kata “AI” menjadi istilah yang banyak dipakai dalam penamaan atau rebranding perusahaan. Menurut laporan Gizmo China, saham Allbirds melonjak lebih dari 420 persen hingga pukul 11 siang pada sesi perdagangan Rabu (15/4/2026) setelah pengumuman terkait transformasi tersebut.