Xiaomi, merek teknologi asal China yang dikenal lewat smartphone dan perangkat smart home, membuat langkah tak biasa dengan merilis produk es krim. Inisiatif ini menarik perhatian karena mengadopsi pendekatan penamaan dan segmentasi produk yang selama ini lekat dengan lini gawai Xiaomi.
Alih-alih menghadirkan varian es krim dengan nama rasa pada umumnya, Xiaomi memilih skema yang menyerupai strategi produknya di dunia teknologi: Standard, Pro, dan Max. Pendekatan tersebut sekaligus mengaitkan produk baru dengan identitas merek yang sudah dikenal, terutama di kalangan komunitas penggemarnya.
Varian Standard Edition diposisikan sebagai opsi paling sederhana. Produk ini dijual dengan harga sekitar 5,99 yuan atau setara Rp15.000. Di atasnya, Pro Edition ditawarkan dengan harga 6,99 yuan (sekitar Rp18.000) dan dilengkapi tambahan satu keping biskuit. Sementara itu, Max Edition menjadi varian tertinggi dengan harga 8,99 yuan (sekitar Rp22.000) dan menyertakan tiga keping biskuit sebagai topping.
Di balik pengembangan produk ini, disebutkan ada peran Bing Jiabao, chef dari kantin internal Xiaomi. Ia mengungkapkan inspirasi awal datang dari dessert berbahan dasar tofu, namun kemudian diolah dengan sentuhan berbeda melalui penggunaan millet atau jawawut sebagai bahan utama. Millet merupakan biji-bijian kecil yang umum digunakan dalam makanan tradisional Asia dan disebut memberi tekstur serta rasa yang tidak lazim pada es krim pada umumnya.
Langkah Xiaomi merambah makanan dan minuman juga dinilai mencerminkan tren yang lebih luas, yakni perusahaan teknologi yang memperluas cakupan merek ke ranah gaya hidup. Sejumlah perusahaan tidak lagi hanya berfokus pada produk utama, melainkan mencoba masuk ke berbagai aspek keseharian konsumen, termasuk kategori F&B.
Peluncuran es krim ini memunculkan beragam reaksi publik, mulai dari terkejut hingga penasaran. Terlepas dari perdebatan apakah langkah tersebut murni strategi pemasaran atau bentuk inovasi, kehadirannya berhasil memancing perhatian dan percakapan di kalangan warganet.
Fenomena perluasan merek lintas industri seperti ini diperkirakan akan semakin sering muncul. Batas antar sektor kian cair, dan perusahaan dapat bereksperimen dengan identitasnya untuk tetap relevan di mata konsumen.