BERITA TERKINI
Xi Jinping Susun Rencana Hadapi Rivalitas AS, China Genjot AI dan Perluas Kekuatan Militer

Xi Jinping Susun Rencana Hadapi Rivalitas AS, China Genjot AI dan Perluas Kekuatan Militer

Ketegangan geopolitik disebut kian meningkat dalam beberapa waktu terakhir, seiring langkah Amerika Serikat (AS) mengerahkan kekuatan militernya ke sejumlah negara seperti Venezuela dan Iran. AS juga menggunakan tekanan ekonomi melalui kebijakan tarif impor terhadap beberapa mitra dagang, termasuk Indonesia, yang turut membuat China meningkatkan kewaspadaan.

Presiden China Xi Jinping dilaporkan menyiapkan rencana jangka panjang untuk menghadapi rivalitas dengan AS. Dalam rencana itu, Xi disebut mengalihkan sumber daya negara ke pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi kuantum, dan teknologi strategis lainnya, sambil memperluas kekuatan militer China.

Rincian rencana tersebut untuk lima tahun ke depan disampaikan dalam rapat parlemen nasional di Beijing beberapa waktu lalu, sebagaimana dilaporkan New York Times pada Rabu (4/3/2026). Rencana itu mencerminkan pandangan Xi bahwa persaingan dengan AS pada akhirnya akan ditentukan oleh inovasi teknologi, yang kemudian mendorong kekuatan ekonomi, militer, dan budaya.

Dalam kerangka itu, China disebut semakin gencar mendorong pengembangan inovasi teknologi di berbagai bidang, termasuk bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, kecerdasan terwujud (embodied intelligence), serta jaringan seluler 6G.

“Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis,” demikian bunyi rencana tersebut.

Laporan itu juga menyoroti bahwa upaya China mempercepat penguasaan teknologi terjadi di tengah pembatasan yang selama beberapa tahun terakhir diberlakukan AS terhadap teknologi asal China. Pembatasan itu disebut mencakup berbagai sektor, termasuk pembatasan penggunaan teknologi China oleh pihak swasta.

Salah satu contoh yang disebut adalah kebijakan pemerintahan Presiden Joe Biden pada 2023 yang membatasi Nvidia menjual chip canggih ke China, termasuk kartu grafis (GPU) H200 yang digunakan untuk pengembangan AI. Saat itu, Biden beralasan penjualan teknologi AS ke China dapat mengancam keamanan nasional AS dan membuat China unggul dalam kompetisi AI.

Namun pada 2025, pembatasan tersebut disebut dianulir oleh Presiden Donald Trump, sehingga Nvidia kembali diizinkan menjual chip AI canggihnya ke China.

Selain itu, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) dilaporkan melarang router terbaru buatan asing mulai Januari 2026. Meski negara yang dimaksud tidak disebutkan, sejumlah analis menduga kebijakan itu menargetkan pembendungan perangkat keras asal China.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi China seperti Huawei dan ZTE juga pernah menjadi sasaran kebijakan AS. Keduanya masuk ke daftar hitam (entity list), yang berarti dilarang menjual produk maupun memperoleh komponen dari perusahaan asal AS.