xAI, perusahaan teknologi milik Elon Musk yang menggunakan merek dagang xAI, diketahui telah menghapus statusnya sebagai Public Benefit Corporation (PBC). Dalam struktur PBC, perusahaan pada prinsipnya menyatakan bahwa pencarian laba bukan satu-satunya tujuan, melainkan juga mengedepankan manfaat publik serta beroperasi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Catatan publik di Nevada menunjukkan bahwa per 9 Mei 2024, identifikasi xAI sebagai PBC sudah tidak tercantum lagi. Perubahan ini juga terlihat saat xAI bergabung dengan X (sebelumnya Twitter) pada tahun ini. Dalam artikel perusahaan bertanggal 28 Maret, struktur perusahaan gabungan tersebut disebut tetap tanpa status PBC.
Sekitar sebulan setelah perubahan status itu, xAI teramati mulai menggunakan lusinan turbin gas alam untuk memasok energi ke pusat datanya di Memphis, Tennessee. Pusat data tersebut digunakan untuk melatih dan memproses data di balik chatbot Grok.
xAI dan pemasok energinya, Solaris Energy Infrastructure, sebelumnya menyatakan akan menggunakan pengendalian polusi pada turbin-turbin tersebut. Namun riset peneliti University of Tennessee di Knoxville menyimpulkan operasi xAI di Memphis telah menambah polusi udara di wilayah tersebut.
Di tengah sorotan itu, National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) menggugat xAI dengan tudingan pelanggaran terhadap Undang-Undang Udara Bersih yang berlaku di negara bagian setempat. Presiden dan CEO NAACP Derrick Johnson menyatakan, “Kami tidak bisa terus membiarkan ketidakadilan iklim seperti ini, di mana perusahaan besar mendirikan operasional yang mengotori lingkungan di lingkungan permukiman warga kulit hitam tanpa izin dan mereka mengira tidak akan ada masalah karena menilai warganya tak akan mampu melawan balik.”
Gugatan NAACP tersebut diwakili oleh Legal Advocates for Safe Science and Technology (LASST). Kelompok ini juga menjadi pihak pertama yang memperoleh catatan publik Nevada terkait perubahan status perusahaan xAI. LASST menilai pendaftaran sebagai PBC sempat memberi keuntungan dari sisi publisitas, namun kemudian ditinggalkan tanpa pemberitahuan kepada publik setelah manfaatnya diraih.
Direktur Program LASST Vivian Dong mengatakan, “Begitu Anda mulai berhasil mendatangkan miliaran dolar ke dalam sebuah industri, dan mengikuti apa yang menjadi motif keuntungan, kadang malaikat yang baik hanya duduk di belakang.” Sementara itu, CEO LASST Tyler Whitmer menyebut kerja nonprofit kelompoknya bertujuan menjaga perusahaan AI tetap dapat dipertanggungjawabkan atas janji mereka kepada pengguna, investor, dan regulator, serta mendorong transparansi mengenai risiko keselamatan teknologi dan kebijakan AI masing-masing perusahaan.
Isu transparansi juga muncul saat xAI merilis Grok 4 pada 9 Juli. Pada saat peluncuran, perusahaan disebut tidak menyediakan detail mengenai rambu-rambu maupun hasil uji keselamatan yang relevan sebelum model digulirkan. Sebagai perbandingan, kompetitor seperti OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic—yang disebut berstatus PBC di Delaware—dinilai telah mengungkapkan rambu-rambu dan uji keselamatan terkait rilis baru sebelum meluncurkannya ke publik.
Meski demikian, perusahaan-perusahaan di industri AI secara umum tetap menghadapi kritik terkait fokus yang dinilai belum memadai pada keselamatan AI, privasi, serta dampak lingkungan dari pusat data yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model-model AI.
xAI kemudian memperbarui model card untuk Grok 4 pada 20 Agustus, dengan menyediakan sejumlah informasi tentang rambu-rambu dan hasil uji. Pembaruan itu terjadi hampir dua bulan setelah peluncuran model tersebut.