BERITA TERKINI
Ericsson Perkenalkan RAN Terintegrasi AI untuk Mendukung Penguatan Jaringan 5G di Indonesia

Ericsson Perkenalkan RAN Terintegrasi AI untuk Mendukung Penguatan Jaringan 5G di Indonesia

Ericsson memperkenalkan perangkat radio dan perangkat lunak Radio Access Network (RAN) terbaru yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan menyebut inovasi ini ditujukan untuk membantu operator seluler di Indonesia membangun infrastruktur 5G yang berperforma tinggi, adaptif, dan lebih hemat konsumsi energi.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan bahwa di tengah persaingan teknologi, kecerdasan sistem dan aspek keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pengembangan jaringan. Menurutnya, kebutuhan operator saat ini juga mengarah pada upaya mengoptimalkan investasi infrastruktur jangka panjang melalui sistem yang dapat bekerja otomatis dan efisien.

“Dengan menghadirkan kemampuan AI langsung ke Radio Access Network, kami memungkinkan terbentuknya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih efisien dalam penggunaan energi, sehingga dapat membantu operator di Indonesia mempercepat penyebaran jaringan sekaligus mengoptimalkan investasi jangka panjang,” kata Wahby dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).

Portofolio terbaru yang diumumkan mencakup sepuluh perangkat radio berkemampuan AI, pembaruan fitur perangkat lunak, serta lima antena berperforma tinggi. Ericsson menyatakan rangkaian teknologi ini ditujukan untuk memaksimalkan pengelolaan spektrum frekuensi dan memperkuat performa uplink, yang dinilai krusial untuk menjaga kestabilan koneksi data.

Melalui integrasi AI, jaringan diklaim dapat mengelola sumber daya dan lalu lintas data secara dinamis dan real-time. Sejumlah fitur yang disorot antara lain beamforming cerdas serta prediksi cakupan jaringan, yang memungkinkan alokasi kapasitas dilakukan lebih presisi sesuai kebutuhan pengguna di lapangan.

Bagi pengguna, teknologi ini disebut berpotensi menghadirkan koneksi yang lebih stabil untuk aktivitas digital berkecepatan tinggi seperti streaming video dan gim seluler. Ericsson juga menilai konektivitas yang lebih andal dapat membantu mengurangi gangguan latensi yang selama ini menjadi tantangan dalam penggunaan aplikasi berbasis AI di perangkat ponsel.

Wahby menambahkan, meningkatnya penggunaan data dan kompleksitas berbagai skenario pemanfaatan membuat operator memerlukan infrastruktur yang mampu beradaptasi dan melakukan optimalisasi secara real-time.

“Seiring dengan meningkatnya penggunaan data dan semakin kompleksnya berbagai use case, operator membutuhkan infrastruktur yang dapat berpikir, beradaptasi, dan melakukan optimalisasi secara real-time. Dengan mengintegrasikan kecerdasan ke dalam perangkat radio, antena, dan software, kami memungkinkan jaringan yang dapat memanfaatkan spektrum secara lebih efisien, meningkatkan kinerja uplink, serta pada akhirnya menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih baik,” katanya.