Tingkat pengangguran di Kota Medan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat angka pengangguran terbuka di Medan mencapai 8,13 persen. Padahal, Medan dikenal sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara, sehingga kondisi ini menegaskan adanya kesenjangan antara besarnya potensi ekonomi dan kemampuan menciptakan lapangan kerja.
Sejumlah pihak menilai, salah satu kunci untuk menjembatani persoalan tersebut terletak pada pemberdayaan masyarakat. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pembukaan lapangan kerja baru, tetapi juga membekali masyarakat agar lebih mandiri serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Di era digital, ruang untuk pemberdayaan dinilai semakin terbuka melalui pemanfaatan platform wirausaha digital.
Pengangguran di Medan juga dipandang berkaitan dengan ketidaksesuaian (mismatch) antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri. Banyak anak muda dinilai belum siap menghadapi tuntutan pasar kerja modern. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi menghadirkan peluang baru melalui wirausaha digital, yang memungkinkan individu membangun penghasilan dengan memanfaatkan perangkat dan akses internet.
Salah satu bentuk yang disebut potensial ialah program berbasis afiliasi digital yang tersedia di sejumlah platform, seperti TikTok, Shopee, atau Lazada. Melalui skema ini, anak muda dapat memulai aktivitas usaha dengan modal minim, memanfaatkan ponsel pintar dan koneksi internet. Mereka juga dapat mempelajari pembuatan konten kreatif, pengelolaan akun digital, hingga pemasaran online. Selain berpotensi menambah penghasilan, aktivitas tersebut dinilai dapat memperkaya keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Agar pemberdayaan berbasis digital memberikan dampak yang lebih nyata, sejumlah langkah disebut perlu diperkuat. Di antaranya peningkatan literasi digital, pelatihan pemasaran online agar produk lokal mampu bersaing, serta kemitraan dengan perusahaan digital untuk memperluas akses. Dukungan modal dan akses finansial yang ramah bagi UMKM juga dinilai penting, disertai pelibatan lintas sektor—mulai dari pemerintah, akademisi, swasta, hingga organisasi nonpemerintah—untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan.
Pemanfaatan inovasi berbasis platform digital dinilai tidak sebatas solusi jangka pendek. Dengan strategi yang tepat, pendekatan ini dapat menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus membantu menekan angka pengangguran. Dalam kerangka tersebut, anak muda tidak hanya menunggu kesempatan kerja formal, tetapi juga berpeluang menciptakan kesempatan secara mandiri.
Kolaborasi menjadi faktor yang ditekankan dalam upaya ini. Pemerintah dinilai perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung UMKM, lembaga pendidikan diharapkan menyiapkan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri digital, sementara masyarakat dituntut lebih adaptif dan berani berinovasi.
Dengan potensi ekonomi yang dimiliki, Medan dipandang memiliki peluang untuk mengubah tantangan pengangguran menjadi kesempatan menuju kemandirian ekonomi yang lebih berkelanjutan melalui penguatan wirausaha digital sebagai instrumen pemberdayaan.