Prospek kinerja PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge pada 2026 dinilai semakin menarik seiring peluncuran komersial layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) melalui merek IRA – Internet Rakyat.
WIFI melalui anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama, resmi meluncurkan layanan 5G FWA pada pita frekuensi 1,4 GHz dengan merek IRA – Internet Rakyat. Aktivasi layanan dimulai pada 19 Februari 2026, yang menandai fase eksekusi komersial IRA telah berjalan penuh.
IRA – Internet Rakyat disebut memenuhi target program Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yakni kecepatan internet hingga 100 Mbps dengan harga maksimum Rp 147.000. Dalam penawarannya, layanan ini menghadirkan paket fixed broadband seharga Rp 100.000 per bulan dengan kecepatan hingga 100 Mbps, data unlimited tanpa batas kuota, bebas biaya instalasi, serta gratis sewa modem.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kontribusi proyek IRA berpotensi signifikan apabila ekspansi jaringan berjalan sesuai rencana. Ia menyoroti target pengoperasian 5.500 site jaringan aktif pada 2026. Menurut Wafi, jika target tersebut tereksekusi mulus, IRA dapat menjadi sumber pendapatan berulang (recurring revenue) yang mendorong pertumbuhan pendapatan WIFI, terutama pada paruh kedua 2026.
Di sisi lain, Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mencatat WIFI melalui anak usaha Viberlink memperoleh lisensi FWA Region 1 yang mencakup Jawa, Maluku, dan Papua. Dengan harga awal Rp 100.000 per bulan tanpa biaya instalasi, Yosua menilai penawaran ini lebih murah dibanding alternatif yang ada saat ini, termasuk Telkomsel Orbit dan PLN Iconnet.
Dalam asumsi model bisnisnya, layanan FWA ini menggunakan proyeksi 1.000 pelanggan per site dengan rasio oversubscription 100:1, serta estimasi belanja modal (capex) per home passed sekitar Rp 1,2 juta. Secara konservatif, Yosua memproyeksikan 2,5 juta home passed dan 1,6 juta home connected pada 2027 dengan take-up rate (TUR) 55%, serta pertumbuhan CAGR 34%–43% hingga 2031.
Secara paralel, Yosua juga mencatat WIFI memperluas segmen FTTH (Fiber to the Home) premium melalui merek Starlite. Dengan dukungan pendanaan yang telah diamankan sebesar Rp 7,25 triliun, perusahaan menargetkan 5 juta home passed pada 2027.
Layanan Starlite ditawarkan dalam dua tier harga, yakni Rp 100 ribu per bulan untuk kecepatan 100 Mbps dan Rp 250 ribu per bulan untuk 250 Mbps. Infrastruktur pendukungnya mencakup backbone fiber sepanjang 10.000 km di Pulau Jawa yang dibangun melalui koridor rel PT Weave, serta rencana ekspansi ke Sumatra lewat kemitraan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Per September 2025, WIFI tercatat telah mencapai sekitar 1,5 juta home passed dan 831.000 home connected. Yosua memperkirakan home passed pada 2025 sebesar 2,2 juta, meningkat menjadi 4,2 juta pada 2026, dan mencapai 5 juta pada 2027.
Dari sisi sentimen, Wafi melihat sejumlah faktor makro dan industri yang berpotensi mendorong kinerja WIFI. Salah satu katalis yang ia soroti adalah posisi WIFI sebagai pihak yang disebut akan diuntungkan dari kesepakatan dagang pembebasan tarif teknologi antara Amerika Serikat dan Indonesia. Menurutnya, ekosistem perangkat FWA yang didukung pemain global seperti Qualcomm dapat memperoleh dampak positif dari penghapusan tarif tersebut, termasuk potensi penurunan biaya pengadaan modem yang menjadi bagian strategi modem gratis.
Meski demikian, Wafi mengingatkan investor untuk mencermati risiko, terutama execution risk dalam pembangunan jaringan serta potensi perang harga di industri broadband nirkabel.
Adapun dari perspektif kinerja segmen, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam riset 6 Februari 2026 mencatat telekomunikasi menjadi pendorong utama pertumbuhan, khususnya pada kuartal III 2025. Secara kumulatif, pendapatan segmen telekomunikasi pada Januari–September 2025 tumbuh 309% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 738 miliar. Akselerasi yang lebih tajam juga dicatat pada kuartal III 2026, dengan pendapatan mencapai Rp 458 miliar, naik 208% yoy dan 23% secara kuartalan (qoq).
Berdasarkan laporan keuangan, WIFI membukukan pendapatan bersih Rp 1,01 triliun per 30 September 2025, melonjak 100,99% yoy dari Rp 504,95 miliar. Laba bersih tercatat Rp 260,09 miliar, naik 71,03% yoy dari Rp 152,07 miliar.
Untuk tahun buku 2026, Liza mengestimasi pendapatan WIFI dapat mencapai Rp 4,68 triliun, meningkat dibanding proyeksi 2025 sebesar Rp 1,67 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih diproyeksikan naik menjadi Rp 1,234 triliun pada 2026, dari estimasi Rp 356 miliar pada 2025.
Sejumlah analis juga menyampaikan rekomendasi atas saham WIFI. Liza merekomendasikan buy dengan target harga Rp 4.000 per saham. Wafi memberikan rekomendasi buy dengan target Rp 3.300 per saham, sementara Yosua juga merekomendasikan buy dengan target Rp 4.100 per saham.