Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalillah menekankan pentingnya penerapan etika digital agar kemajuan teknologi digital membawa manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, tanpa etika digital, perkembangan teknologi justru berpotensi menimbulkan dampak buruk.
Pernyataan itu disampaikan Sitti Rohmi dalam webinar literasi digital “Indonesia Makin Cakap Digital” yang digelar secara virtual oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk komunitas digital Bali-Nusa Tenggara, Senin. Dalam diskusi bertajuk “Bijak Berinteraksi di Sosial Media”, ia menyebut etika diperlukan sebagai pengingat bahwa teknologi pada hakikatnya merupakan anugerah bagi manusia.
Sitti Rohmi juga menilai pandemi COVID-19 perlu dilihat sebagai berkah karena mendorong percepatan penyebaran teknologi komunikasi digital atau digitalisasi. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan apakah kemajuan itu benar-benar membawa manfaat. Bagi Sitti, jawabannya terletak pada etika digital yang tercakup dalam literasi digital.
Ia menambahkan, selain etika, aktivitas digital juga membutuhkan kompetensi literasi digital terkait netiket atau etika berkomunikasi melalui internet. Kompetensi tersebut mencakup kemampuan mengakses informasi sesuai netiket, menyeleksi dan menganalisis informasi saat berkomunikasi, serta memahami netiket sebagai upaya membentengi diri dari dampak buruk.
Menurut Sitti, ruang lingkup etika meliputi kesadaran mengenai tujuan, tanggung jawab dalam menggunakan media digital, kejujuran, serta kebajikan. Ia mencontohkan sikap bertanggung jawab menghadapi persoalan, tidak melakukan plagiasi, dan menebarkan kebaikan.
Sitti juga berpesan agar warganet mampu membedakan antara etika—yang tetap berlaku meski sendirian—dan etiket yang berlaku saat berhubungan dengan orang lain. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan konten negatif, seperti pelanggaran kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan atau pengancaman, termasuk menyebarkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA, serta berita bohong yang mengakibatkan kerugian.
Webinar #MakinCakapDigital 2022 merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan Kominfo bekerja sama dengan Siberkreasi. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga awal Desember dan diharapkan dapat memberikan panduan kepada masyarakat dalam beraktivitas di ruang digital.
Program literasi digital tersebut digelar di 34 provinsi dan 514 kabupaten, dengan pembahasan tema dari perspektif empat pilar utama, yakni digital skills, digital ethics, digital safety, dan digital culture, untuk mendorong masyarakat Indonesia semakin cakap digital.
Dari perspektif kecakapan digital (digital skills), penyanyi sekaligus influencer Nelly Carey menyoroti pentingnya perlindungan hak cipta di ranah digital. Ia menyatakan revolusi digital yang ditandai perkembangan teknologi perlu diiringi kesadaran dan pemahaman tentang kekayaan intelektual, khususnya hak cipta. Menurutnya, kekayaan intelektual merupakan karya yang lahir dari kemampuan olah pikir manusia, baik di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni, maupun sastra, yang dapat menghasilkan produk atau proses bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.
Sejak diselenggarakan pada 2017, program Gerakan Literasi Digital Nasional disebut telah menjangkau 12,6 juta orang. Pada 2022, Kominfo menargetkan pelatihan literasi digital bagi 5,5 juta warga Indonesia.