VinUni menempatkan riset terapan sebagai salah satu fokus dalam strategi pengembangan barunya menuju 2030. Pada pertengahan 2025, universitas ini menetapkan target agar program penelitiannya berkontribusi memecahkan 100 tantangan sains dan teknologi praktis. Salah satu proyek yang masuk dalam agenda tersebut adalah Volterra.
Tim peneliti VinUni menyoroti tantangan menjaga kapasitas jaringan listrik di tengah pertumbuhan kendaraan listrik berbasis baterai. Para ahli memperkirakan, pada 2030 jumlah kendaraan listrik di Vietnam dapat mencapai 1 juta unit. Kondisi itu menuntut peningkatan signifikan jumlah stasiun pengisian daya, sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai ketersediaan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan pengisian.
Vietnam, seperti banyak negara berkembang lainnya, menghadapi situasi yang dinilai paradoks. Kendaraan listrik dipandang membantu menurunkan emisi, memperbaiki kualitas udara, dan memberi dampak positif bagi kesehatan masyarakat. Namun, ekspansi infrastruktur pengisian daya berpotensi menjadi beban bagi sistem tenaga listrik. Jika stasiun pengisian daya terutama bertumpu pada jaringan yang ada, risiko kelebihan beban pada jam sibuk meningkat. Sebaliknya, memperluas jaringan hanya untuk mengejar lonjakan permintaan jangka pendek dapat menimbulkan biaya investasi besar dan berujung pemborosan.
Di tengah persoalan tersebut, Profesor Laurent El Ghaoui—Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Inovasi serta Direktur Ilmiah Pusat Intelijen Lingkungan VinUni—bersama rekan-rekannya mengajukan pertanyaan kunci: bagaimana membangun solusi pengisian daya yang tidak terlalu bergantung pada jaringan listrik, namun tetap layak secara ekonomi dan dapat diperluas sesuai kondisi negara.
Tim kemudian mempertimbangkan model stasiun pengisian daya terintegrasi yang menggabungkan sistem pemanenan energi dan penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS). Inti pendekatannya adalah platform kecerdasan buatan (AI) dan simulasi digital (Digital Twin) yang terintegrasi untuk memungkinkan simulasi, prediksi, serta optimasi operasi stasiun pengisian daya secara real-time. Dalam platform ini, digunakan algoritma optimasi multi-tingkat, manajemen beban dinamis, dan teori permainan untuk menangani dua lapis persoalan sekaligus: optimasi energi dan perilaku pengguna.
Menurut tim, stasiun pengisian daya kendaraan listrik konvensional pada umumnya hanya berfungsi menyalurkan listrik ke kendaraan tanpa mengetahui kondisi jaringan secara keseluruhan—apakah sedang kelebihan pasokan atau justru terbebani. Pada jam sibuk, banyak kendaraan dapat mengisi daya pada stasiun yang sama sehingga memicu lonjakan beban mendadak dan meningkatkan biaya pengisian. Sebaliknya, pada jam sepi, infrastruktur cenderung kurang dimanfaatkan, yang dinilai berujung pada pemborosan sumber daya.
Dr. Nguyen Phi Long, anggota tim peneliti, menjelaskan solusi AI dan Digital Twin dalam Volterra berperan seperti “bandar kartu” yang membangun skenario operasi optimal bagi keseluruhan sistem. Setiap stasiun pengisian daya fisik memiliki “salinan” di ruang digital, tempat berbagai skenario operasi terus disimulasikan, diuji, dan disesuaikan berdasarkan data waktu nyata.
Sistem AI Volterra dirancang tidak hanya melihat permintaan pengisian pada satu waktu tertentu. Sistem ini menganalisis tren penggunaan masa lalu, memperkirakan puncak beban yang akan datang, dan menghitung cara mengalokasikan energi secara optimal dari berbagai sumber. Keputusan seperti kapan memprioritaskan energi terbarukan, kapan mengisi atau mengosongkan penyimpanan, dan kapan mengambil daya dari jaringan listrik dipadukan dalam satu persoalan optimasi untuk menekan biaya sekaligus menjaga stabilitas operasional.
Dr. Do Danh Cuong, kepala tim peneliti, menambahkan Volterra juga diarahkan untuk mampu berkoordinasi pada tingkat jaringan. Ketika sebuah stasiun mendekati batas beban, sistem dapat mengalokasikan permintaan ke stasiun lain yang masih memiliki kapasitas, atau mendorong pengguna mengisi daya pada waktu yang lebih tepat melalui skenario harga dan layanan. Dengan pendekatan ini, infrastruktur pengisian daya dinilai tidak lagi sekadar bereaksi pasif terhadap permintaan, melainkan menjadi sistem yang lebih fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan fluktuasi pasar kendaraan listrik.
Volterra tercatat meraih Hadiah Pertama dalam Kompetisi Pembangunan Berkelanjutan Global - Asia-Pasifik (GSC) serta menjadi juara kedua dalam Kompetisi Pencarian Bakat Startup Inovasi Nasional ke-11 (TECHFEST).