Teknologi kecerdasan buatan (AI) berbasis suara atau Voice AI mulai mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan pelanggan, terutama di layanan pusat bantuan yang selama ini identik dengan waktu tunggu panjang. Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap respons cepat dan layanan instan, Voice AI disebut berkembang dari sekadar pelengkap menjadi bagian inti dalam komunikasi digital sehari-hari.
Menjawab tren tersebut, penyedia teknologi interaksi real-time global Agora memperkenalkan solusi Conversational AI Agent terbaru yang ditujukan untuk sektor layanan pelanggan dan pemasaran. Sistem ini dirancang untuk merespons percakapan dalam hitungan milidetik, dengan tujuan mengurangi sekat kaku antara komunikasi manusia dan mesin.
Di Indonesia, urgensi transformasi layanan ini diperkuat oleh temuan Contact Center Service Excellence Index 2025 yang menunjukkan tingginya tuntutan konsumen terhadap kecepatan respons serta ketersediaan layanan selama 24 jam. Kondisi itu mendorong perusahaan mencari cara agar layanan tetap responsif tanpa mengorbankan pengalaman pelanggan.
Founder dan CEO Agora, Tony Zhao, menyatakan bahwa suara merupakan medium komunikasi yang paling alami bagi manusia, namun penerapan AI percakapan secara real-time dalam skala besar memerlukan infrastruktur yang dirancang khusus. “Suara adalah cara paling alami bagi manusia untuk berkomunikasi. Namun, untuk menghadirkan AI percakapan secara real-time dalam skala besar, dibutuhkan infrastruktur yang dirancang khusus,” ujarnya dalam keterangan pada Senin (6/3/2026).
Menurut Zhao, dengan mengatasi tantangan latensi atau jeda waktu serta kebutuhan “orkestra sistem”, perusahaan dapat menerapkan agen suara dalam skala masif tanpa menurunkan kualitas pengalaman pelanggan.
Agora memetakan implementasi teknologi ini ke dalam dua pilar utama. Pertama, efisiensi layanan pelanggan, di mana agen AI dapat menangani tugas-tugas rutin seperti pengingat janji temu, pembaruan status pengiriman, hingga penanganan kendala teknis tanpa waktu tunggu. Sistem ini juga diklaim mampu mengenali interupsi, sehingga pelanggan dapat memotong pembicaraan seperti saat berkomunikasi dengan petugas manusia.
Kedua, transformasi penjualan dan pemasaran. Berbeda dari sistem telepon otomatis tradisional yang cenderung kaku, agen AI ini disebut dapat melakukan outreach secara lebih dinamis. Sejumlah fungsi seperti penagihan utang, kualifikasi prospek, hingga survei interaktif dapat dijalankan dengan gaya bahasa yang lebih personal dan natural.
Di sisi lain, proyeksi Gartner menyebut 70% interaksi pelanggan akan diotomatisasi pada 2027. Dalam konteks tersebut, peluncuran solusi dari Agora menandai arah baru bagi bisnis yang tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga berupaya membangun kembali kepercayaan pelanggan melalui teknologi yang dinilai lebih mampu “mendengar” dan menghadirkan pengalaman komunikasi yang lebih manusiawi.