BERITA TERKINI
UNY dan Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom Kolaborasi Terapkan Kurikulum Inklusif Berbasis Riset

UNY dan Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom Kolaborasi Terapkan Kurikulum Inklusif Berbasis Riset

Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar pada Jumat, 1 Mei 2026, di Grand Rohan Jogja. Kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, lewat penerapan kurikulum inklusif berbasis hasil riset.

Program pengabdian tersebut dilaksanakan melalui kemitraan dengan Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom, lembaga pendidikan inklusif yang dipimpin Kyai Abu Kahfi. Kolaborasi ini diposisikan sebagai langkah menghadirkan pendidikan Islam yang lebih aksesibel bagi anak dengan hambatan pendengaran, sekaligus memperkuat praktik pendidikan inklusif yang berangkat dari kebutuhan di lapangan.

Acara diawali penyampaian materi oleh Ketua Tim Pengabdi, Prof. Dr. Hermanto, M.Pd., yang menekankan pentingnya pendekatan sistematis dalam implementasi pembelajaran inklusif. Kurikulum yang diterapkan disebut merupakan hasil penelitian tahun 2025 yang telah tervalidasi dan dinilai efektif, sehingga siap diimplementasikan lebih luas dalam konteks pendidikan pesantren.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama tim pengabdi, Dr. Bayu Pamungkas, M.Pd. dan Erma Kusumawardani, M.Pd. Diskusi membahas hasil uji efektivitas implementasi kurikulum yang menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran, keterlibatan peserta didik, serta kompetensi guru dalam menerapkan strategi pembelajaran adaptif.

Selain mendukung SDG 4, program ini juga dikaitkan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan melalui penyediaan akses pendidikan yang lebih adil bagi anak berkebutuhan khusus. Kemitraan antara perguruan tinggi dan Pondok Darul Ashom turut dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.

Temuan kegiatan menunjukkan pendekatan pembelajaran berbasis visual, bahasa isyarat, serta strategi multisensori dinilai efektif untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi peserta didik dengan hambatan pendengaran. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi hasil penelitian ke dalam praktik pendidikan sebagai bagian dari inovasi berkelanjutan.

Melalui kegiatan pengabdian tersebut, model kurikulum inklusif yang dikembangkan diharapkan dapat direplikasi di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia guna mendorong terwujudnya sistem pendidikan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan sesuai agenda global SDGs.