YOGYAKARTA—Pemanfaatan artificial intelligence (AI) mulai banyak diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan dunia pendidikan. Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta menjadi salah satu perguruan tinggi yang mendorong penggunaan teknologi tersebut, sekaligus menekankan pentingnya etika dalam pemanfaatannya.
Rektor USD Albertus Bagus Laksana mengatakan USD berkolaborasi dengan Pusat Kajian Perguruan Tinggi Indonesia (PKPTI) dalam konferensi atau diskusi panel yang membahas kemajuan teknologi informasi serta sistem edukasi bagi semua. Ia menilai forum itu penting untuk mendorong sistem pendidikan yang lebih layak.
Dalam kegiatan yang digelar Minggu (17/11/2024) tersebut, sejumlah kolaborator dihadirkan, antara lain Dr. V. Luluk Prijambodo dan Aloysius Widyawan Louis dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, serta Prof. The Jin Ai dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mereka menyampaikan gagasan terkait teknologi informasi dan pembelajaran bagi semua orang.
Albertus menyampaikan USD berupaya tetap selaras dengan perkembangan teknologi digital, termasuk implementasi AI dan etika penggunaan teknologi. Ia juga menyebut USD memiliki rencana jangka panjang untuk memperluas kesempatan berkuliah bagi semua orang, serta mendorong pemanfaatan teknologi yang adaptif dan inovatif untuk menunjang pembelajaran. Ia berharap upaya tersebut dapat memantik semangat reformasi pendidikan yang inklusif, adil, dan bermartabat.
Sementara itu, Prof. Concilianus Laos Mbato menjelaskan konferensi berskala nasional itu ditujukan untuk menjangkau lebih banyak pelaku pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Menurutnya, perlu ada penguatan layanan pendidikan yang lebih baik, baik bagi pendidik maupun peserta didik.
Concilianus menilai isu pendidikan kontemporer—yang mencakup pendidikan inklusif, etika teknologi, dan AI dalam pembelajaran—perlu terus digaungkan. Ia juga mengapresiasi komitmen USD dalam mengembangkan aspek-aspek tersebut.
Ia menekankan pembelajaran perlu sensitif terhadap peserta didik. Karena itu, ia menyinggung pentingnya pendekatan culturally responsive teaching serta penerapan pendidikan inklusif di dalam kelas.
Selain itu, Concilianus menyoroti pentingnya peningkatan kualitas lembaga pendidikan karena berdampak pada pelayanan kerja, proses akreditasi, dan aspek lain. Ia mengajak berbagai pihak memandang pendidikan sebagai tindakan spiritualitas, yang mencakup pelayanan intelektual hingga emosional, sosial, dan spiritual.