SALATIGA — Perhatian terhadap penurunan minat mahasiswa pada bidang sains kian menguat. Sains kerap dipandang sebagai mata kuliah yang sulit dan dinilai kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, figur ilmuwan yang berkontribusi besar bagi ilmu pengetahuan dinilai belum mendapat sorotan seluas tokoh bisnis maupun hiburan.
Fenomena tersebut disebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain metode pengajaran yang kurang menarik serta kurikulum yang belum sepenuhnya membangkitkan rasa ingin tahu mahasiswa. Hal ini mengemuka dalam Forum Kuliah Tamu bertajuk Penguatan Keilmuan Sains Data dalam Publikasi Ilmiah Berbantuan AI yang digelar Program Studi Sains Data Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga di Ruang Rapat Utama Gedung Ahmad Dahlan.
Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menekankan pentingnya formulasi pembelajaran yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi untuk meningkatkan minat mahasiswa pada sains. Ia menyinggung bahwa pada masa lalu, ketertarikan terhadap sains kerap tumbuh setelah mahasiswa mengenal sosok ilmuwan berpengaruh seperti Michael Faraday dan Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie).
“Figur ilmuwan perlu lebih sering diperkenalkan di media agar mahasiswa memiliki kebanggaan terhadap dunia sains. Keberadaan mereka menjadi inspirasi sekaligus membuktikan bahwa sains memiliki peran nyata dalam membangun peradaban,” ujar Rasimin.
Ia juga menilai inovasi metode pembelajaran perlu dilakukan agar selaras dengan kebutuhan generasi saat ini. Menurutnya, akademisi dan tenaga pendidik memiliki tanggung jawab merancang model pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada teknologi, salah satunya melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konsep sains lebih interaktif dan mudah dipahami.
Rasimin turut mengapresiasi inisiatif Prodi Sains Data FTIK UIN Salatiga dalam menyelenggarakan kuliah tamu tersebut. Ia menyatakan optimisme bahwa kegiatan ini dapat menjadi langkah awal pengembangan metode pembelajaran sains berbasis AI yang lebih kontekstual, sekaligus mendorong lahirnya ilmuwan yang lebih dikenal dan mampu menginspirasi generasi muda.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Prodi Sains Data, Enika Wulandari, M.Pd., menyoroti keterkaitan sains dan filsafat sebagai landasan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia menyebut bahwa dari Aristoteles hingga Al-Farabi, sains selalu berpijak pada filsafat dan tidak terbatas pada angka maupun algoritma, melainkan juga refleksi manusia dalam memahami realitas dan merumuskan makna.
Enika juga menekankan bahwa AI dan sains data telah menjadi bagian dari paradigma ilmu pengetahuan modern. Menurutnya, sains data berperan menghubungkan teori dengan praktik, sementara tantangan yang dihadapi adalah memastikan pemanfaatan AI dapat memperdalam pemahaman serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah. Ia mengajak peserta memandang AI sebagai alat yang dapat dioptimalkan, dengan tetap membutuhkan pemikir yang mampu mengarahkan teknologi untuk melahirkan inovasi.
Narasumber kuliah tamu, Dr. Lasmedi Afuan, S.T., M.Cs., dosen Universitas Jenderal Soedirman, menjelaskan peran AI dalam mempercepat publikasi ilmiah sekaligus meningkatkan akurasi. Ia menyebut teknologi seperti pemrosesan bahasa alami (NLP), analisis data otomatis, dan deteksi pola kompleks dapat menjadi “mitra riset” yang membantu mempercepat proses, meningkatkan ketepatan analisis, serta menyajikan temuan dengan lebih efektif.
Menurut Lasmedi, integrasi AI dalam publikasi ilmiah dapat membantu menyaring informasi, mengidentifikasi tren penelitian, dan memperdalam analisis tanpa menghilangkan esensi ilmiah. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan kritis manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Kuliah tamu yang digelar pada Kamis (27/8) ini dihadiri ratusan mahasiswa FTIK UIN Salatiga, khususnya dari Prodi Sains Data. Sejumlah pejabat FTIK dan dosen juga turut hadir dan berpartisipasi dalam diskusi. Antusiasme peserta tampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber.