Aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Selama terhubung dengan internet, penggunaan AI dapat ditemui baik di perkotaan maupun pedesaan, terutama melalui media sosial dan lokapasar (marketplace).
Di media sosial, pengguna kerap menerima konten yang muncul di beranda tanpa diminta, lalu terdorong untuk ikut berkomentar, berbalas respons, hingga memicu aktivitas luring. Sementara di lokapasar, AI memungkinkan rekomendasi produk tampil otomatis, termasuk berdasarkan kebiasaan pencarian maupun percakapan pesan instan yang terhubung dengan akun belanja daring.
Lima prediksi tren AI pada 2023
Berdasarkan rangkuman dari berbagai literatur, terdapat lima prediksi tren AI pada 2023.
- Generative AI, yakni algoritma AI yang memanfaatkan data yang ada—seperti video, gambar, suara, hingga kode komputer—untuk menghasilkan konten baru yang sebelumnya tidak ada di dunia non-digital. Fenomena ini disebut mulai terlihat, termasuk kemunculan figur selebgram yang ternyata merupakan kreasi AI.
- Ethical and explainable AI, yaitu menguatnya peran etika dan kebutuhan penjelasan atas keputusan AI. Korporasi dan organisasi diperkirakan akan semakin berupaya mengatasi bias serta ketidakadilan dalam sistem pengambilan keputusan berbasis AI.
- Augmented working, yakni meningkatnya kolaborasi manusia dengan robot dan mesin pintar untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Salah satu contoh yang disebut adalah penerapan tilang berbasis AI melalui sistem ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement).
- Sustainable AI, yaitu AI diproyeksikan menjadi pendorong keberlanjutan pada industri lain serta wilayah operasi korporasi.
- The ongoing democratization of AI, yakni dorongan agar AI tersedia lebih luas bagi individu, perusahaan, dan organisasi. Demokratisasi ini dikaitkan dengan upaya mengatasi kesenjangan keterampilan, termasuk keterbatasan ilmuwan data, talenta AI, dan programmer terlatih.
Dalam tulisan tersebut juga disebutkan periset Bernard Marr dari lembaga konsultan global TIK, IDC, memperkirakan pemerintah dan korporasi akan membelanjakan anggaran sebesar 500 miliar dollar AS.
Etika AI: isu yang makin menonjol
Dari lima tren itu, perhatian khusus diarahkan pada etika AI, terutama dengan merujuk pada berbagai potensi masalah teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia, termasuk maraknya peretasan data hingga lahirnya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi pada September 2022.
Etika AI dipahami sebagai himpunan pertimbangan dalam praktik AI yang bertanggung jawab. Cakupannya meliputi keselamatan, keamanan, kepedulian terhadap faktor manusia, serta pertimbangan lingkungan. Aspek etika dinilai penting karena berpotensi memunculkan risiko bisnis, seperti kegagalan produk, persoalan hukum, hingga kerusakan merek. Selain itu, etika juga dipandang terkait dengan upaya memperoleh nilai bisnis dari penerapan AI.
Rujukan prinsip etika AI
Prinsip etika AI dalam tulisan tersebut merujuk, antara lain, pada aturan dari UNESCO serta IEEE. UNESCO merilis AI Ethics yang telah diratifikasi 193 negara, termasuk Indonesia, pada November 2021. Setahun kemudian, pada November 2022, rekomendasi tersebut disebut mulai diadaptasi ke konteks lokal. Sementara pada awal 2023, tools ethical impact assessment dijadwalkan untuk diperkenalkan kepada pemerintah dan masyarakat, termasuk di Indonesia.
Adapun jika mengacu pada IEEE’s Ethically Aligned Design v.1 (Maret 2019), etika AI antara lain berbasis pada sejumlah prinsip berikut:
- Hak asasi manusia (HAM): AI dibuat dan dioperasikan untuk menghormati, mempromosikan, dan melindungi HAM secara internasional.
- Perlindungan data: AI memberdayakan individu agar dapat mengakses dan berbagi data, sekaligus memberi kontrol atas identitas. Prinsip ini juga mencakup kebutuhan AI menyediakan alasan rasional atas keputusan yang dibuat.
- Kesejahteraan: AI diharapkan meningkatkan kesejahteraan manusia sebagai bagian dari tolok ukur keberhasilannya.
- Efektivitas: kreator dan operator AI perlu membuktikan efektivitas serta kecocokan tujuan implementasi, sekaligus menjaga sistem dari potensi penyalahgunaan dan risiko.
- Transparansi: keterbukaan agar pihak-pihak terkait dapat mengetahui alasan keputusan dalam adopsi AI, serta kepatuhan terhadap aturan, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk implementasi yang aman dan efektif.
Tulisan itu juga menekankan bahwa konsumen, karyawan, dan warga negara memantau transparansi interaksi AI seiring organisasi memanfaatkan teknologi tersebut, serta dapat memberi respons terhadap perilaku organisasi yang dinilai tidak beretika.
Dengan tren AI yang diperkirakan terus menguat, perhatian pada etika AI dinilai menjadi bagian penting dalam menyambut perkembangan teknologi pada 2023.