Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar kembali mencatat capaian di tingkat nasional setelah tim dosennya dinyatakan lolos pendanaan Program Bestari Saintek 2026 yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tim tersebut mengusung proposal berjudul Circular Farming Living Lab: Inovasi Pakan Lokal Menuju Kemandirian dan Ekonomi Peternak Ruminansia Berkelanjutan di Blitar.
Capaian ini terjadi di tengah seleksi ketat. Dalam Program Bestari Saintek 2026, hanya 4,9 persen periset dari 65 perguruan tinggi terbaik negeri dan swasta di Indonesia yang dinyatakan lolos pendanaan.
Tim pelaksana diketuai Alfan Setya Winurdana, S.Pt., M.Pt., dengan anggota Resti Yuliana R., S.Pt., M.Pt., Aris Sunandes, S.E., M.M., serta Yuli Agustina, S.E. Kolaborasi lintas bidang ini diarahkan untuk menguatkan pendekatan riset, tidak hanya pada aspek teknis peternakan, tetapi juga pada dimensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Alfan mengatakan keberhasilan pendanaan tersebut menjadi motivasi untuk menghadirkan inovasi yang aplikatif bagi peternak, terutama terkait persoalan ketersediaan pakan dan tingginya biaya. Menurutnya, program dirancang untuk mendorong sistem yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui konsep integrasi pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular, program ini memanfaatkan limbah pertanian dan potensi sumber daya lokal untuk diolah menjadi bahan pakan alternatif bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Alfan menyebut pemanfaatan limbah yang selama ini belum optimal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung praktik yang lebih ramah lingkungan, antara lain melalui teknologi fermentasi dan pengolahan.
Ia juga menekankan penggunaan pendekatan living lab dalam program tersebut. Dalam konsep ini, peternak dilibatkan secara aktif dalam proses inovasi dan pengembangan, sehingga tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi turut menjadi bagian dari ekosistem inovasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Selain pengembangan teknologi pakan, program juga diarahkan untuk memberi dampak sosial-ekonomi, termasuk peningkatan kapasitas peternak dan penguatan UMKM lokal yang terlibat dalam rantai pasok pakan. Resti Yuliana R. menyatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari sisi inovasi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat, dengan pendampingan dan transfer pengetahuan sebagai bagian dari implementasi.
Evaluasi program disebut akan mengacu pada indikator terukur, seperti peningkatan penerapan teknologi fermentasi pakan, pertumbuhan bobot harian ternak atau Average Daily Gain (ADG), stabilitas ketersediaan pakan, serta peningkatan partisipasi dan kapasitas produksi UMKM yang terlibat.
Aris Sunandes menilai pendekatan integratif menjadi kekuatan program karena menggabungkan aspek produksi, manajemen usaha, hingga penguatan ekonomi lokal. Sementara itu, Yuli Agustina menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, peternak, dan pelaku usaha lokal untuk mempercepat adopsi inovasi sekaligus memperluas dampak manfaatnya.
Unisba Blitar menyatakan program ini tidak hanya ditujukan menghasilkan luaran akademik, tetapi juga dampak nyata bagi sektor peternakan rakyat. Alfan menambahkan, pendanaan Program Bestari Saintek 2026 dipandang sebagai momentum untuk memperkuat peran kampus dalam pembangunan daerah, serta membuka peluang agar model pengembangan peternakan berbasis inovasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain.