Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) meraih prestasi tingkat nasional setelah memenangkan Juara 1 Statistics Essay Competition (SEC) dalam ajang Satria Data 2025. Mereka tergabung dalam Tim Croissant yang beranggotakan Angellita Wijaya Gunawan (Rekayasa Nanoteknologi 2022), Michael Albert Theojaya (Teknologi Sains Data 2022), dan Amalika Ari Anindya (Teknologi Sains Data 2022), dengan bimbingan Ratih Ardiati Ningrum SSi MStat.
Dalam kompetisi tersebut, Tim Croissant mengusung esai berjudul “Pengembangan Aplikasi Voxify: Deteksi Dini Penyakit Pernapasan.” Gagasan ini berangkat dari perhatian mereka terhadap tingginya kasus gangguan pernapasan di masyarakat. Melalui pendekatan analisis suara, Voxify dirancang sebagai solusi sederhana untuk membantu mengenali potensi penyakit pernapasan sejak dini.
Amalika menjelaskan bahwa aplikasi tersebut ditujukan agar dapat digunakan secara luas. “Kami ingin menciptakan alat bantu yang bisa digunakan siapa saja, cukup dengan smartphone dan nantinya akan diklasifikasikan dengan model,” ujarnya.
Angellita menuturkan ketertarikannya pada bidang medis menjadi salah satu pendorong riset. Ia menyebut, berdasarkan berbagai riset yang dibacanya sejak 2020 hingga 2025, persoalan penyakit pernapasan dinilai semakin mendesak dan menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Michael menekankan kekuatan tim yang berasal dari latar belakang berbeda. Menurutnya, pembagian peran membuat proses berjalan lebih efektif, dengan Angellita berfokus pada riset ilmiah, sedangkan dirinya dan Amalika menangani analisis data serta pengembangan model.
Persiapan kompetisi berlangsung sekitar lima bulan. Proses dimulai sejak Mei, mencakup diskusi ide, pencarian dataset, pemodelan, hingga penyusunan esai final. Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah mengubah hasil analisis yang bersifat teknis menjadi tulisan yang tetap komunikatif dan mudah dipahami.
“Menjelaskan sesuatu yang kompleks dengan bahasa yang tetap komunikatif itu sulit, tapi kami ingin karya ini bisa diterima semua kalangan,” kata Amalika.
Dari ratusan peserta, Tim Croissant berhasil melewati tahap semifinal secara daring dan melaju ke babak final yang digelar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pada tahap akhir, enam tim finalis mempresentasikan gagasan mereka secara langsung di hadapan dewan juri nasional.
Kemenangan tersebut menjadi pengalaman berkesan bagi ketiganya. Amalika mengaku tidak menyangka timnya dapat meraih posisi puncak. Ia menyebut kerja keras, begadang, dan latihan yang dijalani akhirnya membuahkan hasil.
Ke depan, mereka berharap inovasi Voxify dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan pihak medis, termasuk kemungkinan uji coba langsung di lapangan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Amalika juga menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain agar tidak ragu memulai. Menurutnya, ide sederhana dapat berkembang menjadi sesuatu yang besar apabila dikerjakan dengan tekun dan didukung kerja tim yang solid.