BERITA TERKINI
Tiga Komunitas di Probolinggo, Bandung, dan Tangsel Tawarkan Alternatif untuk Kurangi Ketergantungan Gadget pada Anak

Tiga Komunitas di Probolinggo, Bandung, dan Tangsel Tawarkan Alternatif untuk Kurangi Ketergantungan Gadget pada Anak

Suasana sore di banyak lingkungan permukiman kini kerap terasa lebih sunyi. Alih-alih terdengar riuh permainan anak-anak, yang tampak justru kepala-kepala kecil menunduk menatap layar. Sejumlah studi menunjukkan waktu penggunaan gadget pada anak terus meningkat dan menjadi bagian dari keseharian.

Teknologi memang memberi akses belajar yang luas. Namun, penggunaan yang semakin dominan juga berisiko menjauhkan anak dari pengalaman nyata: bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan secara langsung. Di tengah kekhawatiran itu, sejumlah komunitas lokal memilih menawarkan alternatif kegiatan yang membuat anak kembali terlibat dengan dunia sekitar, tanpa menempatkan larangan gadget sebagai satu-satunya jawaban.

Tiga inisiatif yang menonjol datang dari Probolinggo, Bandung, dan Tangerang Selatan: RB Cahaya Probolinggo, Sekolah Ulin Bandung, dan Sekolah Tingal. Ketiganya mengambil jalur berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama—menciptakan pengalaman nyata yang menarik bagi anak.

RB Cahaya Probolinggo: Menguatkan Literasi dari Ruang Sederhana

RB Cahaya Probolinggo berangkat dari keresahan tentang akses literasi yang masih terbatas bagi anak-anak di daerah. Komunitas ini tumbuh dari ruang sederhana—rak buku, tikar, dan relawan yang meluangkan waktu—namun mengusung pendekatan yang tidak kaku.

Anak-anak tidak diposisikan sebagai pembaca yang harus memenuhi target. Mereka diajak menikmati cerita, menggambar, berdiskusi ringan, hingga bermain sambil belajar. Buku didekatkan sebagai pintu petualangan, bukan kewajiban. RB Cahaya juga tercatat sebagai bagian dari gerakan literasi komunitas yang mendapat perhatian dalam program bantuan literasi nasional, menunjukkan kerja akar rumput dapat memperoleh pengakuan lebih luas.

Sekolah Ulin Bandung: Mengajak Anak Kembali ke Alam

Berbeda dari fokus literasi RB Cahaya, Sekolah Ulin Bandung menawarkan ruang bermain dan belajar yang menempatkan alam sebagai medium utama. Anak-anak tidak diarahkan untuk duduk diam menatap papan tulis, melainkan terlibat dalam kegiatan seperti membuat layangan, berkebun, membuat kerajinan, hingga menjelajah alam.

Salah satu programnya secara eksplisit dirancang agar anak “tidak tergantung pada gadget” melalui aktivitas kreatif dan permainan tradisional. Pendekatan ini menekankan pengalaman langsung—menyentuh tanah, merasakan angin, dan berinteraksi dengan teman sebaya—hal-hal yang tidak dapat digantikan layar. Sekolah Ulin juga memasukkan kearifan lokal dalam pembelajaran, dengan mengajak anak mengenal budaya sendiri di tengah derasnya arus konten digital.

Sekolah Tingal: Menempatkan Pengalaman Nyata sebagai Pusat Belajar

Sekolah Tingal hadir dengan pendekatan yang lebih menekankan cara memaknai belajar. Fokusnya bukan semata pada gadget, melainkan pada bagaimana proses belajar dapat menjadi ruang yang bermakna bagi setiap anak.

Sekolah ini menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi unik dan membutuhkan ruang untuk berkembang secara kreatif, mandiri, dan kolaboratif. Pembelajaran tidak hanya terjadi di kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan lingkungan dan proyek nyata. Aktivitas belajar dikaitkan dengan eksplorasi alam serta kehidupan sehari-hari, sehingga anak lebih banyak terlibat dalam diskusi, proyek, dan kerja sama. Dalam situasi seperti ini, gadget tidak menjadi pusat perhatian karena anak memiliki aktivitas yang menuntut kehadiran dan keterlibatan langsung.

Benang Merah: Mengganti, Bukan Melarang

Meski berbeda metode, ketiga komunitas ini memperlihatkan pola yang serupa. Pertama, mereka tidak melarang gadget secara frontal dan mengakui teknologi sebagai bagian dari kehidupan modern. Kedua, mereka menawarkan alternatif yang lebih menarik—membaca di ruang komunitas, bermain di alam, atau belajar melalui proyek nyata. Ketiga, mereka membangun relasi yang hangat sehingga anak merasa nyaman, didengar, dan dihargai.

Pendekatan ini menegaskan bahwa anak cenderung tidak meninggalkan sesuatu jika tidak menemukan pengganti yang lebih bermakna. Karena itu, fokusnya bukan sekadar pembatasan, melainkan penyediaan pengalaman yang membuat anak kembali menikmati dunia nyata.

Apa yang Bisa Ditiru di Rumah

Gerakan RB Cahaya, Sekolah Ulin, dan Sekolah Tingal menunjukkan perubahan dapat dimulai dari komunitas kecil dan ruang sederhana. Di tingkat keluarga, pendekatan serupa dapat dicoba, misalnya dengan mengajak anak membaca bersama, menyediakan ruang bermain tanpa gadget, serta melibatkan anak dalam aktivitas nyata sehari-hari.

Di era digital, gadget mungkin sulit dihindari. Namun, pengalaman masa kecil yang utuh—penuh eksplorasi, interaksi, dan keterlibatan langsung—tetap bisa diperjuangkan melalui kegiatan yang membuat anak merasa dunia nyata cukup menarik untuk dijalani.