Di era digital, ponsel kian menjadi bagian dari aktivitas harian. Banyak orang mengandalkan gawai untuk mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengisi waktu luang.
Namun, jurnalis sekaligus pembuat film Nayeema Raza menilai ada gejala yang perlu diwaspadai. Dalam sesi TED singkat berjudul 3 Habits to Practice Curiosity — and Escape Your Phone, ia menyoroti situasi ketika seseorang merasa sangat terhubung di dunia maya, tetapi justru merasa asing dan mudah terdistraksi saat berada di dunia nyata.
Menurut Raza, ketergantungan berlebihan pada gawai dapat mengikis kemampuan untuk fokus dan berempati dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh jawaban secara instan berisiko membuat orang enggan berpikir lebih jauh, seolah semua jawaban sudah tersedia di depan mata.
Untuk melatih curiosity atau rasa ingin tahu sekaligus mengurangi penggunaan gawai, Raza menawarkan tiga kebiasaan sederhana yang dapat dipraktikkan setiap hari.
1. Berhenti sejenak (The Power of Pause)
Raza menyarankan untuk melatih jeda sebelum membuka ponsel. Ia menilai, banyak orang menyalakan layar bukan karena kebutuhan, melainkan karena refleks otomatis. Karena itu, ia menganjurkan jeda setidaknya satu detik sebelum memutuskan mengecek ponsel.
Meski terdengar sepele, jeda singkat ini dinilai memberi ruang bagi otak untuk lebih sadar. Momen tersebut membantu seseorang bertanya pada diri sendiri apakah benar perlu mengecek notifikasi saat itu, atau sekadar sedang bosan. Dengan latihan ini, perhatian perlahan kembali berada dalam kendali diri.
2. Menikmati rasa penasaran (Wonder)
Raza juga mengajak orang untuk tidak selalu buru-buru mencari jawaban lewat mesin pencari. Dalam situasi seperti lupa nama aktor film atau penasaran pada fakta tertentu, ia menantang audiens untuk menikmati momen “tidak tahu” dan membiarkan pertanyaan itu menggantung sejenak.
Menurutnya, proses menebak-nebak dan memberi ruang bagi imajinasi justru dapat mengasah kreativitas. Dengan menikmati proses berpikir, seseorang bisa membangun kembali ketajaman mental yang kerap tumpul akibat informasi instan.
3. Berani bertanya langsung (Ask)
Langkah terakhir yang ditekankan Raza adalah kembali pada interaksi dasar: bertanya langsung kepada orang lain di dunia nyata. Alih-alih hanya mengandalkan ulasan atau informasi di internet, ia mendorong orang untuk berdiskusi secara langsung dengan teman, atau bahkan orang asing.
Bagi Raza, bertanya bukan semata untuk mendapat informasi, melainkan juga membangun koneksi. Kehadiran utuh dalam percakapan dinilainya lebih berharga daripada sekadar data yang akurat, karena percakapan memungkinkan seseorang menangkap nada bicara, memahami emosi lawan bicara, dan melihat sudut pandang berbeda—hal yang tidak dapat diberikan layar ponsel.
Melalui tiga kebiasaan tersebut, Raza mengingatkan pentingnya keberanian untuk hadir sepenuhnya, memelihara rasa penasaran, dan terhubung secara langsung. Ia menegaskan, kebahagiaan tidak semata ditemukan di dalam aplikasi, melainkan dalam momen ketika seseorang benar-benar hadir di dunia nyata.