BERITA TERKINI
Tempat Sampah AI Srikandi Nusabin Disorot sebagai Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Data

Tempat Sampah AI Srikandi Nusabin Disorot sebagai Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Data

Transformasi pengelolaan sampah di Indonesia mulai mengarah pada pemanfaatan teknologi dan data. Di tengah persoalan yang selama ini kerap ditangani lewat pendekatan manual, kampanye perubahan perilaku, dan sistem yang belum terintegrasi, inovasi berbasis teknologi mulai mendapat perhatian.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah tempat sampah AI Srikandi yang dikembangkan Nusabin. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, sistem ini disebut memperoleh apresiasi dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, komunitas teknik, pelaku industri, hingga masyarakat umum.

Pengakuan tersebut, menurut keterangan yang disampaikan, tidak hanya hadir dalam bentuk seremoni, tetapi juga melalui interaksi langsung para pemangku kepentingan yang mencoba sistem ini dalam kondisi nyata.

Berbeda dari pendekatan konvensional yang mengandalkan pemilahan manual, tempat sampah AI Srikandi dirancang bekerja di titik awal pembuangan atau di hulu pengelolaan sampah. Sistem ini mampu mengenali dan mengklasifikasikan sampah anorganik berdasarkan jenis material dan merek secara otomatis.

Setelah proses pengenalan, sampah dipilah sesuai kategorinya. Seluruh data kemudian terekam dan dianalisis secara waktu nyata melalui dashboard terintegrasi. Dengan pendekatan ini, peran pengguna disederhanakan, sementara teknologi menjadi penggerak utama sistem.

Nusabin memosisikan Srikandi bukan sekadar perangkat pintar, melainkan sistem pengelolaan sampah berbasis data. Sistem tersebut disebut dapat dimanfaatkan oleh pengelola kawasan, institusi pendidikan, dan ruang komersial untuk memahami pola timbulan sampah secara lebih presisi.

Pengembangan Srikandi juga diarahkan pada prinsip kemudahan di sumber pembuangan. Dengan menyederhanakan interaksi pengguna, partisipasi dinilai dapat meningkat tanpa ketergantungan pada pengawasan maupun instruksi berulang. Dalam pandangan pengembang, tantangan pengelolaan sampah tidak hanya berada pada aspek teknis, tetapi juga pada konsistensi perilaku dalam jangka panjang.

Sepanjang 2025, Nusabin menyebut sistem ini menjalani validasi lintas sektor, termasuk melalui keterlibatan dalam sejumlah kegiatan publik. Salah satunya pada Agustus 2025, ketika Nusabin berpartisipasi dalam Pondok Indah EcoLiving Festival (PIEL Fest) 2025 yang turut dihadiri Wali Kota Jakarta Selatan, M. Anwar, S.Si., M.A.P.

Validasi juga disebut berlangsung dalam sejumlah festival dan summit di Jakarta dan Bandung selama 2025, sebagai bagian dari upaya menguji penerapan sistem di berbagai konteks penggunaan.