BERITA TERKINI
Teknologi Melesat, Etika Tertinggal: Peringatan soal Arah Kemajuan

Teknologi Melesat, Etika Tertinggal: Peringatan soal Arah Kemajuan

Perkembangan teknologi yang kian cepat kembali memunculkan pertanyaan mendasar: ke mana arah kemajuan ini membawa manusia. Di tengah kecanggihan algoritma, chip, dan kecerdasan buatan, muncul kekhawatiran bahwa laju inovasi tidak selalu diiringi pegangan etika yang memadai.

Dalam pandangan yang disampaikan dalam tulisan opini tersebut, teknologi semestinya berfungsi untuk memanusiakan manusia, bukan menaklukkan atau memperbudak. Namun, penulis melihat paradoks ketika mesin semakin mampu mengenali emosi, sementara manusia justru dinilai berisiko kehilangan empati. Ketika logika dan data menjadi pusat perhatian, martabat manusia dikhawatirkan menyusut menjadi sekadar angka.

Tulisan itu mengaitkan isu ini dengan ajaran para sufi. Disebutkan pesan yang dinisbatkan kepada Abu Yazid al-Busthami, bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan harus dilakukan. Penekanan utamanya adalah kebebasan dan kemampuan mencipta perlu dibatasi kebijaksanaan dalam menggunakan, karena teknologi dipandang hanya sebagai alat, bukan tujuan yang menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.

Kekhawatiran lain yang disorot ialah memudarnya privasi di era digital. Penulis menggambarkan situasi ketika langkah, wajah, suara, dan preferensi individu dapat direkam, dipetakan, lalu diperdagangkan atau dieksploitasi. Dalam konteks ini, algoritma dianggap mampu memengaruhi perhatian dan perilaku manusia melalui mekanisme yang tidak selalu disadari.

Imam al-Ghazali juga dikutip melalui karya Ihya Ulumuddin, yang memperingatkan bahaya menumpuk ilmu tanpa menjadikannya jalan menuju Tuhan. Penulis menilai kondisi masa kini seperti mengulang kelengahan tersebut: ilmu berkembang tanpa hikmah, teknologi diciptakan tanpa tanggung jawab, sehingga kemajuan dapat beriringan dengan kegaduhan, kecemasan, dan kerentanan.

Selain itu, terdapat rujukan pada sebuah hadis yang menyatakan bahwa seseorang yang menyerupai suatu kaum termasuk bagian dari kaum itu. Dalam tulisan tersebut, gagasan ini digunakan untuk mengingatkan bahwa jika manusia meniru sifat teknologi yang dingin—tanpa nurani dan hanya menghitung untung-rugi—maka ada risiko manusia perlahan “menjadi mesin” dan tercerabut dari akar nilai.

Penulis kemudian mengajukan kebutuhan akan “teknologi yang berjiwa” dan menekankan pentingnya revolusi moral sejalan dengan revolusi digital. Yang ditekankan bukan hanya peningkatan kompetensi digital, melainkan juga kesadaran spiritual, tanggung jawab, serta nilai cinta dan kasih sayang—nilai yang disebut tidak bisa diprogram, tetapi dapat ditanamkan dan dihidupkan.

Dalam konteks Indonesia, tulisan itu mengingatkan bahwa mengejar revolusi industri dan membangun pusat data dinilai belum cukup jika arah spiritual dan “pusat hati” diabaikan. Teknologi digambarkan sebagai pisau bermata dua: dapat menyembuhkan sekaligus melukai, mencerdaskan sekaligus memiskinkan nurani.

Di bagian akhir, penulis mengajak pembaca menilai kembali apakah teknologi yang dikembangkan membawa manusia menuju kemuliaan atau kehancuran. Jika jawabannya belum jelas, ia mendorong refleksi diri untuk menemukan kembali arah, seraya mengutip pesan yang dinisbatkan kepada Rumi agar apa yang dicari terlebih dahulu dicari dalam diri. Dalam kerangka itu, etika yang bersumber dari iman, kebijaksanaan, dan cinta disebut sebagai jalan pulang menuju fitrah.