Ekosistem perusahaan rintisan (startup) dan unicorn di Indonesia masih menghadapi tekanan yang kerap disebut sebagai tech winter. Setelah sempat mengalami masa pertumbuhan pesat dengan aliran pendanaan yang deras, dalam tiga tahun terakhir sejumlah startup menghadapi tantangan berat hingga tumbang.
Persaingan yang kian sengit, kegagalan manajerial, serta kondisi ekonomi global yang tidak stabil disebut menjadi sebagian faktor pemicu bubarnya sejumlah startup lokal, seperti Fabelio, Qlapa, dan CoHive. Situasi serupa juga dialami beberapa unicorn yang bisnisnya disebut terseok-seok, di antaranya Bukalapak dan Ruangguru.
Di tengah tekanan tersebut, sebagian perusahaan yang bertahan memilih mengubah strategi. Traveloka, perusahaan rintisan di sektor pariwisata digital asal Indonesia, memutuskan memindahkan kantor pusatnya dari BSD City, Kabupaten Tangerang, ke Singapura mulai Juni 2025. Manajemen menyatakan langkah itu dilakukan untuk memperluas jaringan bisnis dan mempermudah akses ke sumber pendanaan internasional.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) turut mengiringi kondisi industri. Zenius, startup pendidikan, melakukan PHK terhadap lebih dari 200 karyawan dan menghentikan sementara operasional pada 2024. Fabelio, yang bergerak di bidang desain interior dan furnitur, memberhentikan seluruh karyawannya setelah dinyatakan pailit oleh pengadilan pada 2022.
Di kelompok unicorn, Bukalapak dilaporkan melakukan layoff pada 2024 terhadap 500 karyawan, atau sekitar separuh dari total karyawannya. Ruangguru juga menyatakan melakukan PHK terhadap ratusan pekerja pada 2022.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai tumbangnya startup lokal, terutama yang sudah berstatus unicorn, dapat memicu ancaman brain drain bagi Indonesia. Menurutnya, menyusutnya kesempatan bekerja di perusahaan digital besar dapat menurunkan minat talenta digital, yang pada akhirnya turut berdampak pada institusi pencetak talenta.
“Yang pasti kesempatan untuk bekerja di perusahaan digital besar (unicorn) akan hilang dan menurunkan minat talenta digital kita. Ketika minat turun akan berdampak kepada institusi penghasil talenta digitalnya. Mungkin bagi mereka yang bisa bekerja di perusahaan luar, akan pindah ke luar. Dampaknya akan terjadi brain drain di Indonesia,” kata Nailul pada Jumat (8/8/2025).
Meski demikian, Nailul juga melihat situasi ini berpotensi mendorong penyesuaian nilai pasar talenta digital menuju titik ekuilibrium, termasuk penurunan gaji. Ia menilai selama ini startup kecil kesulitan mendapatkan talenta digital mumpuni karena tingkat rate yang sulit dipenuhi.
“Jadi saya berharap ‘rate’ untuk talenta digital bisa berada di titik ekuilibrium,” ujarnya.
Direktur Riset Ekonomi Digital Pusat Studi Ekonomi CORE Indonesia, Etika Karyani Suwondo, menilai tumbangnya startup dan unicorn lokal berdampak serius terhadap perekonomian nasional. Ia mengingatkan lima tahun terakhir merupakan masa ekspansi besar industri digital dengan pertumbuhan pengguna internet, lonjakan investasi, dan lahirnya beberapa unicorn lokal. Namun sejak 2022, industri memasuki fase koreksi akibat tekanan profitabilitas dan pendanaan yang mengetat.
“Industri kini fokusnya bergeser ke efisiensi, tata kelola dan keberlanjutan jangka panjang. Dan ketika perusahaan digital besar tumbang, pendapatan mereka ikut terdampak yang akhirnya berdampak pada efisiensi karyawan,” kata Etika dalam keterangannya pada Kamis (7/8/2025).
Peneliti ekonomi digital CELIOS, Dyah Ayu, menyoroti bahwa gelombang PHK yang kemudian dikenal sebagai tech winter berkaitan dengan turunnya investasi pada ekonomi digital Indonesia. Ia menyebut penurunan daya tarik investasi terlihat dari kontribusi Indonesia terhadap total investasi digital Asia Tenggara, yang turun dari 34% pada 2020 menjadi 25% pada paruh pertama 2022, meski Indonesia masih menjadi destinasi terbesar kedua setelah Singapura.
Di luar isu PHK massal, persoalan talenta digital juga terkait ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Dibandingkan sejumlah negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Singapura, kualitas SDM Indonesia dinilai masih rendah sehingga melemahkan daya saing di pasar global. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pendidikan dan pengembangan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja modern.
Dalam konteks yang lebih luas, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto membutuhkan berbagai faktor pendukung, termasuk investasi dari dalam dan luar negeri. Namun, tanpa dukungan talenta digital yang memadai, realisasi investasi dinilai berpotensi terhambat dan pada akhirnya dapat mengancam pencapaian target pertumbuhan tersebut.