BERITA TERKINI
TBM di Tangsel Dorong Minat Baca Anak di Tengah Gempuran Gadget

TBM di Tangsel Dorong Minat Baca Anak di Tengah Gempuran Gadget

Minat baca anak dinilai perlu ditanamkan sejak usia dini melalui peran aktif orang tua dan dukungan lingkungan sekitar. Di tengah maraknya penggunaan gadget dan media sosial, keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) disebut menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan budaya literasi di masyarakat.

Pendiri sekaligus Ketua Umum Komunitas TBM Magma, Herlina Mustikasari, menyebutkan jumlah TBM di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) saat ini sekitar 200 titik. Namun, ia mengatakan yang aktif sekitar 150 titik. Pada tahun ini, jumlah TBM di Tangsel juga bertambah empat lokasi.

“TBM di Tangsel sudah ada sejak 2010. Harapannya ke depan, setiap RW memiliki TBM, karena ruang lingkupnya kecil dan dekat dengan masyarakat, sehingga mudah diakses,” ujar Herlina, Minggu (12/4).

Menurut Herlina, pengembangan TBM tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas. Ia menegaskan TBM merupakan lembaga non-profit yang hadir untuk menyediakan akses membaca gratis bagi masyarakat tanpa memungut biaya.

“TBM ini murni untuk masyarakat, tidak ada keuntungan. Baca buku gratis, operasional juga dilakukan secara mandiri,” katanya.

Ia menilai TBM memiliki peran penting dalam meningkatkan minat baca, terutama ketika anak-anak semakin akrab dengan gadget. Herlina menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang lebih memilih memberikan gawai dibandingkan buku saat anak menangis, yang kemudian berdampak pada kebiasaan anak.

“Padahal anak itu seperti kertas putih. Apa yang dilihat dari orang tuanya akan ditiru, termasuk kebiasaan membaca,” ujarnya.

Herlina menekankan, upaya menumbuhkan minat baca sebaiknya dimulai dari keluarga. Orang tua, katanya, perlu memberi teladan dengan membiasakan membaca, menyediakan buku di rumah, hingga membacakan dongeng kepada anak sejak dini.

“Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa melihat orang tuanya membaca, maka akan tumbuh rasa ingin tahu terhadap buku,” katanya.

Untuk anak yang sudah terlanjur terbiasa menggunakan gadget, Herlina menyarankan agar orang tua tetap mengenalkan buku secara bertahap dengan pendekatan sesuai minat anak.

“Misalnya anak perempuan bisa dikenalkan buku cerita seperti princess atau tokoh favorit lainnya. Intinya jangan memaksakan selera orang tua, tapi mengikuti minat anak,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai ketegasan orang tua dalam mengatur penggunaan gadget juga penting. Anak, menurutnya, tidak sebaiknya dibiarkan menggunakan gadget tanpa pengawasan.

“Lebih baik anak menangis saat kecil karena dibatasi, daripada nanti saat remaja orang tua sudah tidak bisa mengontrol lagi,” tegas Herlina, yang sejak 2023 hingga kini menjadi Ketua Umum Gerakan Pembudaan Minat Baca (GPMB) Nasional, mitra Perpustakaan Nasional RI.

Ia juga menyarankan orang tua membuat aturan yang jelas di rumah, termasuk pembagian waktu antara penggunaan gadget dan membaca buku. Aktivitas diskusi keluarga terkait konten yang diakses anak juga dinilai dapat membantu pendampingan orang tua.