SOLO—Generasi muda dinilai memiliki banyak cara untuk berkontribusi dalam mendukung transisi energi, salah satunya dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan listrik agar produktif di berbagai sektor. Hal itu mengemuka dalam Talkshow Listrik Produktif 2025 yang digelar di Radya Litera, Griya Solopos, Sabtu (15/11/2025).
Dekan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., mengatakan pembahasan energi listrik saat ini tidak lagi sebatas memastikan lampu menyala. Menurutnya, listrik telah menjadi bagian penting di era digital dan berperan sebagai “bahan bakar” bagi kreativitas, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi.
Ia menyebut, melalui Dinas ESDM, Jawa Tengah tengah menegakkan program yang mendorong provinsi tersebut bergerak menuju listrik yang produktif. Dalam konteks itu, generasi muda diminta terlibat nyata dalam perubahan.
“Generasi muda harus berperan nyata. Bukan hanya paham cara memakai listrik, tetapi mampu mengubah listrik menjadi karya, menjadi peluang usaha, menjadi teknologi baru dan menjadi gaya hidup elektrifikasi,” ujar Wahyudi dalam talkshow tersebut.
Wahyudi menilai perkembangan teknologi, termasuk teknologi kelistrikan, membutuhkan peran anak muda sebagai pelaku inovasi. Ia memaparkan sejumlah bidang yang dapat menjadi ruang kontribusi, mulai dari ketahanan energi, ketahanan pangan, hingga perubahan gaya hidup.
Dalam aspek ketahanan energi nasional, ia menyoroti dorongan pemerintah terhadap percepatan penggunaan kendaraan listrik. Menurutnya, kebijakan itu tidak semata mengganti kendaraan berbahan bakar fosil, melainkan menjadi pintu masuk menuju transisi energi yang lebih bersih. Perkembangan kendaraan listrik juga dinilai membuka peluang bisnis baru, seperti startup konversi kendaraan, pengembangan baterai, hingga ekosistem pendukung lainnya.
Di sektor ketahanan pangan, Wahyudi menyebut generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong pertanian modern melalui smart farming. Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi berbasis listrik yang dipadukan dengan kreativitas anak muda untuk melahirkan wirausaha hijau. Di Jawa Tengah, program listrik masuk sawah disebut telah membantu optimalisasi penggunaan pompa air dan mesin pertanian. Selain itu, inovasi seperti pompa air bertenaga surya dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
Wahyudi juga mendorong penerapan gaya hidup elektrifikasi. Ia menilai berbagai aktivitas produktif kini bergantung pada energi listrik, mulai dari penggunaan co-working space hingga kegiatan e-commerce. Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi yang benar terkait elektrifikasi dan kehati-hatian terhadap informasi hoaks.
Ia menambahkan, anak muda perlu memahami dasar teknologi kelistrikan, termasuk cara kerja baterai, perhitungan kebutuhan energi, hingga kemampuan membandingkan kendaraan listrik dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Upaya itu, menurutnya, perlu diiringi kolaborasi lintas sektor, seperti dengan perguruan tinggi, PLN, maupun lembaga lain untuk mengoptimalkan pemanfaatan tenaga listrik.
Selain memperkuat inovasi bisnis dan memanfaatkan program pemerintah yang tersedia, generasi muda juga didorong menjalankan penggunaan listrik yang benar, mulai dari penghematan energi hingga memastikan pemakaian dilakukan secara aman dan efisien.
Dalam kesempatan yang sama, pemilik Agrowisata Barro Tani Manunggal, Dwi Sartono, memaparkan pemanfaatan panel surya untuk mendukung pertanian terpadu yang berkelanjutan. Ia mengaku merasakan manfaat teknologi dalam meningkatkan produktivitas di bidang pertanian.
“Tentunya dari sisi ketahanan pangan atau bidang pertanian ini sangat luar biasa membantu. Pertama, tentu dengan adanya teknologi energi terbarukan seperti surya panel untuk listrik di bidang pertanian, banyak sekali manfaatnya,” kata Dwi.
Menurutnya, listrik kini menjadi kebutuhan penting dalam budidaya karena pertanian modern membutuhkan dukungan listrik selama 24 jam, baik untuk budidaya maupun pengolahan dan perawatan dalam sistem smart farming. Ia mencontohkan penggunaan irigasi otomatis yang membuat budidaya lebih mudah dan terukur.
Dwi menambahkan, untuk menjawab tantangan penggunaan listrik, termasuk biaya dan keterbatasan jangkauan akses terutama di wilayah terpencil, panel surya dapat menjadi salah satu solusi.