BERITA TERKINI
Survei Jakpat: Transaksi Belanja Online Naik, Rata-rata Pengeluaran Konsumen Turun 13% pada Semester I 2025

Survei Jakpat: Transaksi Belanja Online Naik, Rata-rata Pengeluaran Konsumen Turun 13% pada Semester I 2025

Tren belanja online di Indonesia memasuki fase baru pada paruh pertama 2025. Meski jumlah transaksi meningkat, rata-rata pengeluaran konsumen per bulan justru menurun. Data Jakpat menunjukkan masyarakat kini semakin selektif dan memprioritaskan belanja kebutuhan pokok.

Survei Jakpat terhadap 2.283 responden dari kelompok Gen Z, Milenial, hingga Gen X mencatat 95% responden melakukan belanja online dalam enam bulan pertama 2025. Mayoritas responden masih mengandalkan platform e-commerce (88%), sementara 17% menggunakan layanan quick-commerce.

Dari sisi platform, Shopee tetap menjadi yang paling populer dengan kenaikan pengguna dari 79% menjadi 84%. TikTok Shop juga mengalami pertumbuhan dari 40% menjadi 46%. Namun, di tengah peningkatan transaksi, rata-rata pengeluaran per konsumen per bulan turun dari Rp543.250 menjadi Rp470.516, atau turun 13% dibanding tahun sebelumnya.

Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menyebut penurunan ini mengindikasikan nilai transaksi per orang semakin kecil, terutama untuk pembelian produk sekunder seperti fesyen dan elektronik. “Artinya, nilai transaksi per orang makin kecil, terutama untuk produk sekunder seperti fashion dan elektronik,” ujar Aska dalam keterangan pers, Jumat (1/8/2025).

Di sisi lain, pengeluaran melalui quick-commerce seperti Alfagift dan GrabMart justru meningkat. Rata-rata pengeluaran mencapai Rp293.922 per bulan, naik 36% dari sebelumnya. Alfagift juga mencatat lonjakan penggunaan dari 31% menjadi 66%.

Menurut Aska, quick-commerce lebih sering dimanfaatkan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman, dan keperluan rumah tangga. “Platform quick-commerce memang lebih sering dipakai untuk belanja kebutuhan pokok sehari-hari seperti makanan, minuman, dan keperluan rumah tangga,” kata dia.

Aska menilai perubahan perilaku ini mencerminkan upaya konsumen “mengencangkan ikat pinggang”. Ia menambahkan, ketika konsumen tetap membeli produk nonesensial, sebagian cenderung memilih opsi impor yang dinilai lebih terjangkau dibanding produk lokal.

Situasi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan bagi pelaku UMKM lokal karena produk mereka kian sulit bersaing dari sisi harga di tengah kondisi daya beli yang melemah. “Situasi ini menimbulkan tantangan besar bagi pelaku UMKM lokal, karena produk mereka semakin sulit bersaing dari sisi harga di tengah kondisi daya beli yang melemah,” ujar Aska.