Penggunaan second account atau akun kedua di Instagram dan TikTok kerap menjadi ruang alternatif bagi sebagian Gen Z untuk mengekspresikan diri tanpa mencantumkan identitas asli. Akun anonim semacam ini biasanya dipakai untuk curhat, berbagi meme, atau mengeluhkan urusan kuliah dan pekerjaan dengan harapan terhindar dari penilaian keluarga maupun rekan kerja.
Namun, rasa aman di balik foto profil anonim dan nama pengguna samaran berpotensi semakin rapuh. Sebuah studi terbaru yang dirangkum dari laporan The Guardian menyebut teknologi kecerdasan buatan (AI) kini dapat membantu mengungkap identitas asli pemilik akun anonim dengan cara yang dinilai mudah dan akurat.
Dua peneliti AI, Simon Lermen dan Daniel Paleka, menyoroti kemampuan Large Language Models (LLM)—teknologi yang menjadi dasar berbagai sistem AI—dalam merangkai petunjuk dari unggahan pengguna. Menurut mereka, LLM tidak bergantung pada ada atau tidaknya nama asli di profil. Sistem tersebut bekerja dengan mengumpulkan potongan konteks yang tersebar dari aktivitas online seseorang.
Dalam contoh yang digambarkan peneliti, seorang pemilik second account mungkin mengunggah keluhan tentang sulitnya ujian di kampus, lalu pada unggahan lain menyebut nama kucing peliharaan, dan di kesempatan berbeda menampilkan kafe yang sering dikunjungi. Potongan informasi seperti ini, ketika dikumpulkan, dapat menjadi jejak yang memungkinkan AI melakukan pencarian lebih luas di internet dan mencocokkannya dengan akun lain yang terkait.
Dengan menghimpun detail-detail tersebut, AI dinilai mampu menyusun “puzzle” jejak digital dan mengaitkan akun anonim dengan akun utama pemiliknya, dengan tingkat keyakinan yang tinggi.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran terkait risiko doxing dan penipuan. Jika identitas akun anonim terbongkar, pengguna dapat menghadapi perundungan siber atau doxing, terutama bila akun tersebut memuat opini yang kontroversial. Dalam skenario yang lebih serius, studi itu juga memperingatkan potensi penyalahgunaan oleh peretas untuk membuat penipuan yang lebih personal.
Dengan profil yang dihimpun AI dari aktivitas second account, pelaku dapat melakukan spear-phishing, misalnya menyamar sebagai orang yang dikenal dan memanfaatkan detail spesifik untuk meyakinkan target agar mengeklik tautan berbahaya.
Pakar keamanan siber dari University of Edinburgh, Dr. Marc Juarez, menilai kemampuan AI yang dapat melampaui batas platform media sosial sebagai hal yang mengkhawatirkan. Ia menyebut temuan tersebut sebagai sinyal bahwa praktik privasi perlu dipikirkan ulang.
Meski demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa LLM bukan teknologi tanpa cela. Profesor Ilmu Komputer dari University College London (UCL), Peter Bentley, menyebut AI dapat “berhalusinasi” atau membuat kesimpulan keliru, termasuk dalam pencocokan identitas akun. Risiko ini dapat berujung pada tuduhan salah sasaran, ketika seseorang dikaitkan dengan akun anonim tertentu hanya karena kemiripan minat atau pola unggahan.
Untuk mengurangi risiko, para ilmuwan mendorong perusahaan media sosial menerapkan pembatasan kecepatan unduh serta memblokir aktivitas scraping otomatis oleh bot. Namun, mereka juga menekankan pencegahan paling efektif tetap berada pada pengguna. Profesor Marti Hearst dari UC Berkeley menyatakan AI lebih mudah melacak identitas ketika pengguna membagikan informasi yang konsisten di dua akun berbeda.