Pada pertengahan Februari 2026, Departemen Frekuensi Radio di bawah Kementerian Sains dan Teknologi Vietnam secara resmi memberikan lisensi kepada Starlink Services Vietnam Co., Ltd. (Starlink). Pada fase awal, perusahaan akan mengoperasikan empat stasiun gerbang yang berlokasi di Phu Tho, Da Nang, dan Kota Ho Chi Minh, dengan kapasitas layanan hingga 600.000 perangkat terminal.
Starlink menawarkan layanan internet berbasis satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO), berbeda dari internet serat optik yang bergantung pada kabel serta infrastruktur darat seperti stasiun pangkalan. Dengan jaringan ribuan satelit LEO, layanan ini dapat diakses di lokasi yang memiliki pandangan ke langit, sehingga dinilai memiliki keunggulan dalam menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan konvensional.
Layanan internet satelit ini juga dipandang sebagai solusi bagi “zona putih” di wilayah perbatasan, pulau, atau daerah dengan medan kompleks dan terfragmentasi, tempat cakupan internet seluler sulit dan pemasangan serat optik dinilai tidak ekonomis.
Nguyen Ba Dung, Direktur lini produk MVNO (Virtual Mobile Network Operator) di FPT Shop, mengatakan model internet satelit orbit rendah seperti Starlink merupakan arah pengembangan teknologi baru di sektor telekomunikasi global dan telah diterapkan di banyak negara untuk memperluas konektivitas di wilayah sulit dijangkau infrastruktur tradisional. Namun, ia menilai aksesibilitas pasar Starlink di Vietnam akan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kebijakan regulasi, permintaan pengguna, serta tingkat kematangan infrastruktur yang sudah ada.
Berdasarkan lisensi yang diberikan, Starlink akan menerapkan dua jenis layanan telekomunikasi satelit, yakni layanan satelit tetap (akses internet dan jalur sewa untuk stasiun pangkalan seluler) serta layanan satelit seluler (akses internet di laut dan di pesawat terbang). Jumlah pelanggan maksimum dibatasi hingga 600.000 perangkat terminal.
Jika dibandingkan dengan skala pasar Vietnam saat ini, angka tersebut tergolong kecil. Vietnam memiliki sekitar 25 juta pelanggan internet broadband tetap dan lebih dari 110 juta pelanggan internet seluler. Artinya, sekalipun Starlink berkembang cepat hingga menyentuh batas maksimum pelanggan yang diizinkan, pangsa pasarnya tetap diperkirakan rendah dibandingkan penyedia telekomunikasi utama di negara tersebut.
Di sisi lain, soal keterjangkauan tarif menjadi perhatian. Berdasarkan pengalaman di berbagai negara tempat Starlink tersedia, pengguna umumnya perlu menanggung dua komponen biaya: pembelian perangkat transceiver satelit dan biaya berlangganan bulanan. Harga transceiver disebut dapat dimulai dari 349 dolar AS (lebih dari 9 juta dong Vietnam), sementara biaya berlangganan berkisar dari beberapa puluh hingga lebih dari 100 dolar AS per bulan.
Contoh tarif di sejumlah negara menunjukkan variasi harga: di Amerika Serikat paket internet rumah tangga sekitar 120 dolar AS per bulan; di Jepang sekitar 6.000–7.000 yen per bulan atau sekitar 45–50 dolar AS; dan di Filipina sekitar 2.700 peso per bulan atau sekitar 50 dolar AS. Dengan perhitungan tersebut, total biaya tahun pertama penggunaan Starlink bagi pengguna Vietnam diperkirakan sekitar 1.000 dolar AS (lebih dari 26 juta dong Vietnam), jauh lebih tinggi dibandingkan internet serat optik rumah tangga yang disebut hanya beberapa juta dong Vietnam per tahun.
Sejumlah pelaku industri telekomunikasi domestik menilai kehadiran Starlink belum akan mengubah peta persaingan secara signifikan. Nguyen Minh Phuong, Wakil Direktur Jenderal VNPT VinaPhone Telecommunications Service Corporation, menyatakan layanan satelit tetap Starlink dapat memberi pilihan dan pengalaman baru bagi pengguna, tetapi tidak akan banyak memengaruhi operator jaringan karena tarifnya dinilai terlalu tinggi dibandingkan layanan broadband tetap domestik. Ia menyebut calon pelanggan Starlink dapat mencakup pemilik kapal laut dan kapal penangkap ikan, atau bisnis yang menggunakan layanan untuk pengujian maupun sebagai jalur cadangan.
Perwakilan operator jaringan lain juga menyampaikan pandangan serupa. Menurut mereka, pasar internet domestik telah jenuh dan sangat kompetitif dari sisi harga, sementara layanan Starlink dinilai tidak mungkin semurah layanan yang tersedia di dalam negeri. Karena itu, Starlink lebih dipandang sebagai pelengkap ekosistem telekomunikasi ketimbang pesaing langsung.
Nguyen Ba Dung menambahkan bahwa setiap teknologi—internet satelit, serat optik, maupun seluler—memiliki karakteristik teknis dan cakupan aplikasi yang berbeda. Tingkat persaingan langsung akan bergantung pada wilayah geografis, kebutuhan penggunaan, dan struktur pasar. Dalam banyak situasi, teknologi-teknologi tersebut dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi, sementara dampak masuknya teknologi baru di Vietnam memerlukan waktu untuk dinilai secara nyata.
Di Vietnam, infrastruktur telekomunikasi darat saat ini terutama bertumpu pada jaringan serat optik dan BTS 4G/5G yang dikembangkan operator besar seperti Viettel, VNPT, dan MobiFone. Infrastruktur ini mampu melayani pengguna dalam jumlah besar dengan kecepatan dan cakupan yang luas, namun tetap menghadapi tantangan di wilayah terpencil dan pulau-pulau karena biaya pembangunan dan operasional yang tinggi di medan sulit.
Dalam konteks tersebut, sistem LEO dipandang berpotensi menjadi solusi pelengkap berkat jangkauan luas, penyebaran yang relatif cepat, serta performa akses data dan latensi yang baik. Satelit telekomunikasi LEO beroperasi pada ketinggian sekitar 160 hingga kurang dari 2.000 kilometer di atas permukaan laut. Karena orbitnya rendah, satelit LEO disebut dapat menawarkan latensi sekitar 20–40 milidetik, kecepatan transmisi data 50–500 Mbps, serta cakupan luas tanpa membutuhkan infrastruktur darat yang ekstensif.