Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet nasional besar-besaran pada Sabtu (28/2/2026), dengan penurunan konektivitas lebih dari 96% setelah serangan militer yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel.
Data real-time dari pemantau internet NetBlocks menunjukkan konektivitas internet di Iran turun tajam hingga menyisakan sekitar 4% dari kondisi normal setelah pukul 07.00 UTC. Pengamatan itu mengindikasikan sebagian besar wilayah Iran nyaris tidak terkoneksi secara digital.
Pemantau lain, Cloudflare Radar, juga mencatat trafik internet yang hampir mendekati nol di sejumlah wilayah utama, termasuk kota-kota besar seperti Tehran, Fars, Isfahan, Alborz, dan Razavi Khorasan, sebagaimana dikutip dari Forbes pada Senin (2/3/2026).
Meski pemadaman terjadi di tengah eskalasi konflik, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan gangguan tersebut disebabkan serangan siber dari pihak luar. Indikator yang muncul justru mengarah pada kemungkinan pemutusan akses sebagai kelanjutan kebijakan pemerintah Iran, sebagaimana pernah terjadi pada konflik sebelumnya.
BBC melaporkan sempat berhasil tersambung singkat ketika mencoba menghubungi kontak di dalam Iran melalui layanan satelit SpaceX Starlink. Namun, belum jelas kapan akses semacam itu dapat kembali stabil.
Analis menilai, dengan konektivitas yang tersisa sangat kecil, lalu lintas internet kemungkinan masih digunakan oleh lembaga pemerintah atau militer. Dalam situasi ini, struktur digital negara dapat lebih mudah terungkap, termasuk peluang pemantauan rute koneksi yang biasanya tidak terlihat.
Pemadaman internet meluas ini terjadi bersamaan dengan dimulainya Operation Epic Fury, operasi militer yang diumumkan Amerika Serikat terhadap Iran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, serta ratusan warga Iran lainnya.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan pada Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3). Pada Sabtu (28/2), Iran juga dilaporkan meluncurkan serangan ke Riyadh dan provinsi Timur Arab Saudi.
Perkembangan terbaru, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang kapal induk AS USS Abraham Lincoln di Teluk dengan rudal balistik. Dalam pernyataan yang dimuat media lokal dan dikutip Aljazeera pada Senin (2/3/2026), Garda Revolusi menyebut kapal induk tersebut dihantam empat rudal balistik.