Pertumbuhan jumlah karyawan kerap menjadi indikator bisnis yang berkembang. Namun, seiring bertambahnya tenaga kerja, tantangan pengelolaan karyawan juga ikut meningkat—terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum menggunakan aplikasi Human Resource Information System (HRIS). Proses seperti pencatatan kehadiran, perhitungan gaji, hingga pengaturan tunjangan masih sering dilakukan secara manual, mulai dari spreadsheet sampai catatan kertas.
Di sisi lain, digitalisasi sudah banyak diterapkan UMKM pada berbagai aspek operasional, seperti penjualan, pembayaran, dan pengelolaan stok. Meski begitu, pengelolaan karyawan disebut masih kerap tertinggal. Kesenjangan inilah yang menurut Chief Executive Officer (CEO) Stafbook, Fransiskus Raymond, menjadi salah satu masalah yang ia lihat langsung di lapangan.
Sebelum mendirikan Stafbook, Fransiskus sempat berkarier di sebuah startup unicorn di bidang ride hailing dan food delivery. Dari pekerjaan tersebut, ia bertemu banyak merchant food and beverage (FnB) dan ritel yang sudah terbantu digitalisasi pada sisi penjualan, tetapi belum menemukan solusi yang sesuai untuk mengelola karyawan.
“Waktu itu, saya tanya. Setelah digitalisasi penjualan, challenge-nya apa lagi? Nah, di situ ada keresahan di bidang kelola manusia atau kelola tim sumber daya manusia (SDM),” ujar Fransiskus dalam Podcast Tribun Corner.
Dari keresahan itu, Fransiskus mendirikan Stafbook pada 2021 sebagai platform HRIS. Pada 2022, Stafbook terpilih mengikuti program akselerator Y Combinator di Silicon Valley. Pencapaian tersebut menempatkan Stafbook sebagai salah satu startup HR tech Indonesia yang mendapat pengakuan secara global.
Menurut Fransiskus, platform ini dirancang dengan mengutamakan kesederhanaan agar mudah digunakan oleh berbagai pihak, tidak hanya pengelola usaha, tetapi juga karyawan di lapangan. “Simplicity itu jadi first requirement buat kami. Sebab, banyak pihak yang harus kami sentuh, dari karyawan, HR, leader, sampai owner,” katanya.
Selain mudah digunakan, Stafbook juga disebut berupaya fleksibel mengikuti kebutuhan tiap usaha, terutama dalam hal penggajian yang bisa berbeda-beda. Fransiskus mencontohkan salah satu klien dari sektor FMCG dan ritel yang memiliki cabang di Jawa, Sumatera, dan Bali, dengan sistem penggajian yang kompleks karena melibatkan berbagai komponen seperti allowance, data performa, kehadiran, hingga masa kerja karyawan.
Ia menilai kondisi seperti itu sulit ditangani secara manual, sementara banyak sistem hanya mampu mengotomatisasi sebagian proses. “Kalau menghitung pakai manual, itu rumit banget. Justru area seperti inilah yang jadi spesialisasi kami,” ujar Fransiskus.