BERITA TERKINI
Smamda Surabaya Kenalkan Strategi Penerapan Kurikulum Koding dan AI untuk Tingkat SMP

Smamda Surabaya Kenalkan Strategi Penerapan Kurikulum Koding dan AI untuk Tingkat SMP

SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menginisiasi langkah penerapan kurikulum koding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang ditargetkan untuk jenjang SMP. Gagasan itu diperkenalkan dalam Seminar Pendidikan yang digelar pada Kamis (2/4/26) di Mas Mansyur Hall, Smamda Tower lantai 6, Surabaya.

Seminar bertajuk “Strategi Implementasi Kurikulum Koding dan AI di SMP” menghadirkan Rektor Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) sebagai narasumber utama. Forum tersebut membahas kesiapan sekolah menghadapi perkembangan teknologi digital, sekaligus arah penerapan kurikulum koding dan AI di tingkat SMP.

Kepala Smamda Surabaya, Mukhlasin, menyampaikan bahwa inisiatif tersebut didorong oleh pandangan bahwa koding dan AI bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan dasar di masa depan. Ia juga menyatakan Smamda siap menjadi mitra bagi sekolah-sekolah SMP untuk mengembangkan kurikulum sesuai karakter masing-masing sekolah.

Dalam seminar itu, implementasi koding dan AI di tingkat SMP ditekankan tidak dimaksudkan memberatkan sekolah, melainkan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing. Sejumlah fokus yang disorot meliputi literasi digital, logika pemrograman, serta etika teknologi.

Penyelenggaraan acara di Mas Mansyur Hall, Smamda Tower lantai 6, disebut selaras dengan dukungan fasilitas modern yang menunjang pembelajaran berbasis teknologi. Smamda juga menyampaikan harapan agar sekolah-sekolah SMP di Surabaya dan sekitarnya mulai berani mengintegrasikan koding dan AI dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga generasi mendatang tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta.

Sementara itu, Rektor SiberMu Bambang Riyanta menekankan perbedaan AI dibanding teknologi sebelumnya. Menurutnya, jika teknologi terdahulu bersifat alat statis, AI memiliki kemampuan mengambil keputusan mandiri dan bahkan “memiliki ide”. Ia menyebut dampak AI terhadap peradaban sangat besar, serta menyoroti cepatnya perkembangan AI yang membuat materi atau buku dapat cepat menjadi usang.

Bambang juga menyinggung isu kesiapan generasi, dengan mengutip pernyataan CEO OpenAI Sam Altman bahwa kekhawatiran terbesar bukan pada generasi muda, melainkan pada pengambil kebijakan yang lebih senior. Ia menilai anak muda cepat mengadopsi teknologi, sementara literasi teknologi para pengambil kebijakan perlu terus diperbarui agar keputusan yang diambil tidak menyesatkan.

Menjawab pertanyaan soal potensi AI menggantikan peran guru, Bambang memaparkan hasil risetnya: pada aspek kognitif disebutnya dapat digantikan AI, pada aspek psikomotorik sebagian mulai dapat diambil alih teknologi robotik, dan pada aspek afektif AI disebut sedang dikembangkan agar memiliki “jaringan saraf” yang menyerupai cara berpikir manusia.

Di akhir pemaparannya, Bambang merekomendasikan sekolah-sekolah, khususnya jenjang SMP, untuk mulai berbenah melalui peningkatan kesadaran, digitalisasi sistem, serta adopsi teknologi terbaru. Seminar tersebut juga menegaskan pentingnya adaptasi di dunia pendidikan agar ketidaksiapan terhadap teknologi tidak memicu learning loss seperti yang terjadi pada masa pandemi.