Perusahaan rintisan teknologi Simile tengah mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk membuat jajak pendapat digital yang diklaim lebih canggih dan realistis. Teknologi ini dirancang meniru perilaku manusia dalam berbagai situasi, sehingga perusahaan maupun peneliti dapat mempelajari opini publik dan perilaku konsumen tanpa harus mengandalkan survei konvensional dalam skala besar.
Pengembangan tersebut turut menarik perhatian investor. Simile dilaporkan memperoleh pendanaan modal ventura sebesar 100 juta dolar AS dari Index Ventures. Dana itu disebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi AI yang sedang dibangun perusahaan.
Pendiri Simile, Joon Park, menjelaskan timnya mengembangkan model dasar AI yang ditujukan untuk memprediksi perilaku manusia dalam berbagai kondisi. “Pada dasarnya kami sedang mengembangkan model dasar yang dapat memprediksi perilaku manusia dalam situasi apa pun dan pada skala apa pun,” ujar Park.
Untuk melatih sistemnya, Simile menggunakan wawancara berbasis percakapan yang menyerupai dialog sehari-hari. Pendekatan ini dimaksudkan agar agen AI dapat mempelajari cara manusia berbicara, merespons pertanyaan, dan membangun pola interaksi yang lebih natural. Hasilnya, agen digital tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat mensimulasikan karakter serta preferensi layaknya manusia.
Konsep yang dikembangkan Simile disebut terinspirasi dari simulasi kehidupan dalam gim The Sims. Meski gim tersebut tidak disebutkan secara langsung dalam laporan Wall Street Journal, sebuah makalah penelitian tahun 2023 yang ditulis bersama oleh Park mengungkapkan inspirasi itu. Dalam penelitian tersebut, para peneliti membangun lingkungan simulasi berupa kota kecil digital yang dihuni agen generatif. Pengguna dapat berinteraksi menggunakan bahasa alami dengan sekitar 25 agen digital yang memiliki tujuan, preferensi, dan motivasi masing-masing, serta mampu berinteraksi satu sama lain tanpa mengikuti skrip pemrograman yang kaku.
Di sisi penerapan, teknologi Simile mulai dilirik untuk kebutuhan riset pelanggan. Perusahaan ritel kesehatan asal Amerika Serikat, CVS, disebut melihat agen digital berbasis AI sebagai alat untuk memahami pengalaman pelanggan secara lebih mendalam. Vice President of Enterprise Customer Experience and Insights CVS, Sri Narasimhan, menilai simulasi berbasis AI berpotensi membantu perusahaan mempelajari perilaku konsumen lebih detail dibanding metode survei tradisional, sekaligus memungkinkan pengajuan pertanyaan dalam jumlah lebih banyak.
Salah satu alasan yang disorot adalah agen digital tidak mengalami survey fatigue—kondisi ketika responden manusia kehilangan fokus atau enggan menjawab karena terlalu banyak survei. Dengan demikian, riset dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa kendala tersebut.
CVS juga dikabarkan berencana memperbesar skala penggunaan teknologi ini hingga 100 ribu agen AI dalam waktu dekat. Agen-agen itu direncanakan untuk menguji berbagai aspek, mulai dari tata letak toko, desain produk baru, hingga pengalaman pelanggan di dalam toko. Melalui simulasi skala besar, perusahaan dapat melihat potensi reaksi konsumen terhadap perubahan tertentu sebelum diterapkan di dunia nyata.
Selain sektor ritel, Simile juga menjalin kemitraan dengan lembaga survei Gallup untuk mensimulasikan jajak pendapat publik menggunakan agen AI. Kerja sama ini bertujuan menghasilkan model keputusan yang lebih transparan dan dapat diverifikasi secara empiris, dengan membandingkan hasil simulasi terhadap sentimen masyarakat di dunia nyata.
Di tengah peluang yang ditawarkan, pendekatan survei berbasis simulasi AI juga memunculkan pertanyaan terkait etika, akurasi, dan sejauh mana agen digital dapat merepresentasikan kompleksitas perilaku manusia. Meski demikian, pengembangan yang dilakukan Simile menunjukkan arah baru riset pasar dan jajak pendapat yang semakin mengandalkan simulasi berbasis kecerdasan buatan.