Teknologi animasi berbasis kecerdasan buatan bernama Seedance 2.0 disebut menghadirkan cara baru dalam menciptakan adegan animasi secara cepat. Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah kemampuannya menampilkan ulang momen ikonik dari film La La Land dalam gaya visual anime.
Dalam demonstrasi tersebut, adegan dansa saat matahari terbenam yang identik dengan film La La Land direimajinasikan menggunakan karakter Denji dan Reze dari dunia manga Chainsaw Man. Visualnya memadukan langit jingga khas adegan film tersebut dengan pendekatan gambar bergaya anime yang menonjolkan nuansa emosional.
Seedance 2.0 digambarkan mampu menghasilkan adegan seperti itu dalam hitungan detik. Hal ini berbeda dengan proses animasi konvensional yang umumnya memerlukan tahapan panjang, mulai dari penyusunan storyboard, keyframing, pengaturan pencahayaan, hingga penyempurnaan frame demi frame yang bisa memakan waktu berhari-hari.
Teknologi ini diklaim bekerja dengan sistem pembelajaran mesin yang mempelajari gaya visual, komposisi sinematik, dan gerak tubuh dari banyak referensi film serta animasi. Pengguna cukup menuliskan ide, misalnya “Denji dan Reze berdansa di bawah matahari terbenam ala La La Land”, lalu sistem akan menghasilkan versi visual yang sinematik, lengkap dengan pencahayaan dan ekspresi emosi yang lebih halus.
Implikasi yang disorot dari kemunculan Seedance 2.0 adalah perubahan cara produksi konten animasi. Jika sebelumnya pembuatan animasi berdurasi singkat dapat membutuhkan ratusan jam kerja berbagai peran produksi, kini proses tersebut disebut dapat dipangkas sehingga lebih mudah diakses oleh kreator individu.
Gagasan yang muncul dari perkembangan ini adalah terbukanya peluang “demokratisasi animasi”, ketika keterbatasan waktu, biaya, dan kebutuhan tim besar tidak lagi menjadi hambatan utama. Dalam narasi tersebut, AI diposisikan sebagai alat kolaborasi yang memungkinkan kreator lebih fokus pada cerita, emosi, dan ide.
Reimajinasi adegan La La Land versi anime disebut sebagai langkah awal dari kemungkinan penggunaan teknologi serupa untuk berbagai reinterpretasi visual lain. Dengan pendekatan ini, batas antara gagasan dan realisasi digital dinilai semakin menipis, seiring kemampuan sistem yang membuat ide dapat segera diwujudkan menjadi adegan animasi.