WASHINGTON, 27 Maret 2026 — Industri aset digital menanti keputusan penting hari ini setelah Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) diwajibkan mengeluarkan putusan final atas 91 aplikasi exchange-traded fund (ETF) kripto yang selama ini tertunda. Gelombang pengajuan tersebut mencakup 24 jenis token, dari aset mapan seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) hingga sejumlah token lain seperti Solana (SOL), XRP, Litecoin (LTC), Dogecoin (DOGE), Avalanche (AVAX), serta token infrastruktur DeFi Hyperliquid (HYPE).
Pelaku pasar memperkirakan hasilnya tidak akan seragam. Alih-alih satu keputusan menyeluruh, SEC diproyeksikan mengeluarkan kombinasi persetujuan, penolakan, dan kemungkinan perpanjangan tenggat waktu yang akan memisahkan aset-aset tersebut ke dalam beberapa kategori.
Proses penilaian ini disebut terbantu oleh terobosan hukum pada 17 Maret, ketika keputusan bersama SEC dan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) secara resmi mengklasifikasikan 16 aset kripto sebagai komoditas digital. Keputusan itu dinilai mengurangi hambatan regulasi utama bagi aset di luar Bitcoin, terutama perdebatan lama mengenai status “sekuritas vs komoditas”.
Meski demikian, SEC tetap menerapkan persyaratan lain yang ketat. Di antaranya, aset yang diajukan perlu memiliki riwayat perdagangan berjangka di bursa CME minimal enam bulan, serta menyelesaikan tinjauan registrasi S-1. Konsekuensinya, sebagian aplikasi berpeluang melaju lebih cepat, sementara yang lain dapat tersendat karena belum memenuhi persyaratan riwayat perdagangan berjangka.
Sejumlah aset menjadi sorotan investor menjelang putusan hari ini. XRP diperkirakan dapat memperdalam pasar melalui persetujuan produk leveraged tambahan, setelah sebelumnya disebut telah meluncurkan tujuh ETF spot. Sementara itu, Solana menjadi perhatian institusi karena menawarkan potensi imbal hasil staking sekitar 6–7%, yang dinilai lebih tinggi dibanding Ethereum.
Dogecoin juga dipantau sebagai “wildcard”, seiring status komoditasnya disebut telah terkonfirmasi. Selain itu, langkah Grayscale yang mengajukan ETF untuk Hyperliquid (HYPE) turut menarik perhatian karena menandai perluasan perlombaan ETF ke ranah infrastruktur bursa terdesentralisasi (DEX).
Reaksi harga pasar diperkirakan sangat bergantung pada pola penyaringan SEC terhadap puluhan aplikasi ini. Jika mayoritas aplikasi yang sudah berstatus komoditas memperoleh persetujuan, pasar berpotensi merespons dengan kenaikan harga yang diikuti rotasi modal ke token-token yang mendapat lampu hijau. Namun, investor juga mewaspadai kemungkinan SEC memperpanjang tenggat waktu—yang dapat dilakukan hingga total 240 hari—karena skenario penundaan semacam itu kerap dipandang sebagai sinyal negatif yang dapat menekan sentimen dalam jangka pendek.