BERITA TERKINI
Riset Ungkap Tren Aktivisme Iklim Anak Muda Indonesia: Konsumsi Ramah Lingkungan Dominan, Aktivisme Kolektif Masih Perlu Ditingkatkan

Riset Ungkap Tren Aktivisme Iklim Anak Muda Indonesia: Konsumsi Ramah Lingkungan Dominan, Aktivisme Kolektif Masih Perlu Ditingkatkan

Indonesia menghadapi tantangan besar dalam krisis iklim, mulai dari bencana hidrometeorologi hingga risiko tenggelamnya ratusan pulau. Namun, kebijakan pemerintah kerap belum mendukung upaya pelestarian lingkungan secara optimal. Survei global menunjukkan, kesadaran publik Indonesia terhadap perubahan iklim masih tergolong rendah, dengan persentase penyangkal perubahan iklim yang relatif tinggi dibanding negara lain.

Berbeda dengan tren tersebut, generasi muda Indonesia menunjukkan perhatian yang cukup tinggi terhadap isu lingkungan dan literasi perubahan iklim yang memadai. Aktivisme iklim di kalangan anak muda juga mengalami peningkatan, meskipun masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara maju.

Tren Partisipasi Anak Muda dalam Aksi Iklim

Penelitian yang dilakukan oleh Remotivi melalui survei terhadap 612 anak muda berusia 16-30 tahun dan diskusi kelompok terfokus dengan aktivis lingkungan mengisi kekosongan data terkait pola partisipasi dan motivasi mereka. Hasil riset mengonfirmasi bahwa anak muda tidak hanya memiliki kesadaran iklim, tetapi juga melakukan tindakan mitigasi, terutama melalui konsumsi ramah lingkungan.

Dua Bentuk Partisipasi Aksi Iklim

  • Konsumsi Ramah Lingkungan: Bentuk partisipasi yang paling dominan adalah tindakan individu dalam mengurangi dampak lingkungan melalui pola konsumsi sehari-hari. Sekitar 70% responden rutin menerapkan praktik seperti pengurangan konsumsi energi, pengelolaan sampah, dan memilih produk ramah lingkungan. Pendekatan ini dianggap lebih mudah dilakukan dan memiliki risiko yang lebih rendah.
  • Aktivisme Lingkungan: Partisipasi kolektif yang menuntut perubahan kebijakan pemerintah, seperti mengikuti kampanye, menandatangani petisi, dan memberikan donasi, dilakukan oleh lebih dari 50% responden. Namun, aksi langsung seperti protes dan audiensi masih rendah, dengan kurang dari 30% yang pernah berpartisipasi, meskipun sekitar 40% menunjukkan kesediaan untuk terlibat di masa depan.

Motivasi dan Peran Media Sosial dalam Aktivisme

Analisis riset menunjukkan motivasi anak muda untuk berpartisipasi dalam konsumsi ramah lingkungan terutama dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan individu. Sementara itu, keterlibatan dalam aktivisme lingkungan lebih kompleks dan sangat bergantung pada konektivitas di media sosial serta peran organisasi non-pemerintah (LSM) lingkungan sebagai komunitas pendukung.

Anak muda yang mengikuti akun LSM lingkungan di media sosial menunjukkan tingkat partisipasi lebih tinggi dalam berbagai bentuk aktivisme. Media sosial berperan penting dalam menyebarkan informasi, membangun jejaring komunitas, serta mengubah kesadaran politis menjadi aksi kolektif.

Strategi Memperkuat Aktivisme Lingkungan Anak Muda

  • Perluasan jangkauan dan penyesuaian konten media sosial LSM lingkungan agar lebih menarik dan relevan bagi anak muda, terutama dengan menyajikan informasi dampak krisis iklim dalam kehidupan sehari-hari melalui format video pendek.
  • Mendorong kemudahan akses untuk berpartisipasi dalam aktivisme lingkungan, mengubah kesadaran konsumsi etis menjadi kampanye kolektif yang lebih luas.

Salah satu contoh keberhasilan adalah Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, yang berhasil mendorong penerapan aturan kantong plastik berbayar di beberapa daerah melalui kampanye dan petisi.

Tantangan di Era Digital

Meskipun media sosial membuka ruang bagi politisasi dan aktivisme, terdapat tantangan berupa penyebaran misinformasi yang memperkuat penyangkalan perubahan iklim. Struktur media sosial yang menciptakan "kamar gema" juga berpotensi memperparah polarisasi dalam diskursus digital mengenai isu lingkungan.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun semangat konsumsi ramah lingkungan anak muda cukup tinggi, dibutuhkan upaya lebih besar dalam menggerakkan aktivisme kolektif yang berdampak signifikan terhadap kebijakan iklim di Indonesia.