BERITA TERKINI
Riset: Keindahan Terumbu Karang Bisa Diukur, Restorasi Terbukti Memulihkan Daya Tarik Visual

Riset: Keindahan Terumbu Karang Bisa Diukur, Restorasi Terbukti Memulihkan Daya Tarik Visual

Nilai terumbu karang selama ini kerap dibicarakan dari sisi ekologi dan ekonomi. Namun, ada faktor lain yang ikut mendorong kepedulian publik terhadap ekosistem ini: keindahannya. Terumbu karang yang sehat dikenal memiliki warna cerah, struktur yang kompleks, serta menjadi bagian dari warisan budaya dan penopang pariwisata. Meski begitu, banyak program pemantauan dan restorasi terumbu karang cenderung mengabaikan aspek estetika karena dianggap terlalu subjektif.

Penelitian terbaru dari tim ilmuwan kelautan internasional mencoba menjawab anggapan tersebut. Mereka mengembangkan cara untuk menilai estetika terumbu karang secara terukur, sekaligus menguji apakah upaya pemulihan dapat mengembalikan pesona visual terumbu yang rusak.

Studi ini dilakukan di perairan Sulawesi Selatan, lokasi program restorasi yang didukung perusahaan global Mars dan disebut sebagai proyek restorasi terbesar di dunia. Di wilayah tersebut, masyarakat setempat dan pihak perusahaan bekerja sama lebih dari satu dekade untuk merehabilitasi terumbu yang rusak akibat praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak. Metode ini memang memudahkan penangkapan ikan karena ledakan melumpuhkan dan membunuh ikan seketika, tetapi sekaligus menghancurkan terumbu karang dalam hitungan detik.

Program restorasi tersebut dilaporkan telah menumbuhkan kembali sebagian terumbu yang rusak. Namun tim peneliti ingin mengetahui lebih jauh: apakah pemulihan itu juga mengembalikan daya tarik visual yang biasanya melekat pada terumbu karang alami yang sehat.

Untuk mengukurnya, peneliti memotret dasar laut dengan pengaturan standar yang dapat menyesuaikan keseimbangan warna dan kondisi pencahayaan bawah air. Pendekatan ini digunakan agar warna terumbu dapat terekam secara akurat di berbagai lokasi—mulai dari terumbu sehat, rusak, hingga yang telah dipulihkan.

Selanjutnya, tim melakukan survei daring terhadap lebih dari 3.000 responden. Para responden diminta membandingkan beberapa foto terumbu karang dan memilih mana yang dianggap lebih indah. Dari penilaian tersebut, peneliti menghitung skor estetika untuk setiap gambar.

Hasil survei menunjukkan adanya kesamaan penilaian lintas latar belakang. Responden dari berbagai usia, tingkat pendidikan, negara yang memiliki terumbu karang maupun tidak, serta yang memahami isu kelautan maupun tidak, cenderung sepakat bahwa terumbu karang yang padat, berwarna cerah, dan memiliki struktur kompleks dinilai lebih indah.

Penilaian responden kemudian digunakan untuk melatih algoritma pembelajaran mesin guna memprediksi preferensi visual manusia terhadap beragam kondisi habitat terumbu karang. Prediksi yang dihasilkan konsisten dengan hasil survei: foto terumbu yang telah pulih dinilai sama indahnya dengan terumbu alami yang sehat, dan keduanya jauh lebih menarik dibandingkan terumbu yang rusak.

Temuan ini dinilai penting karena menunjukkan bahwa restorasi tidak hanya berpotensi memulihkan fungsi ekologis, tetapi juga mampu mengembalikan nilai estetika terumbu karang—faktor yang berperan dalam hubungan emosional manusia dengan laut serta mendukung aspek budaya dan pariwisata.

Peneliti juga mengidentifikasi tiga indikator utama yang berkaitan erat dengan keindahan terumbu karang, yakni keragaman warna yang tampak, luas area yang ditumbuhi karang hidup, dan tingkat kerumitan bentuk karang. Sebaliknya, foto yang didominasi hamparan karang mati berwarna abu-abu dengan sedikit tanda kehidupan secara konsisten memperoleh skor paling rendah.

Menurut temuan tersebut, upaya mendorong keragaman warna dan bentuk terumbu karang tidak hanya menguntungkan ekosistem laut, tetapi juga memperkuat nilai visual, budaya, dan pariwisata. Salah satu langkah yang disebutkan adalah pemilihan donor karang dalam transplantasi, ketika karang sehat dipindahkan ke area rusak untuk mendukung pemulihan sekaligus menambah variasi warna dan jenis karang di lokasi tersebut.

Studi ini juga menekankan bahwa pemulihan terumbu dapat dipantau melalui teknik berbasis foto yang relatif sederhana seperti yang digunakan dalam penelitian. Meski demikian, terumbu karang memerlukan perawatan jangka panjang agar dapat bertahan, berkembang, dan mempertahankan keindahan serta fungsi ekologisnya. Karena itu, restorasi perlu disertai pemantauan dan pemeliharaan berkelanjutan agar tidak berhenti di tengah jalan.

Di sisi lain, perkembangan pariwisata di sekitar terumbu yang telah pulih juga disebut perlu dikelola secara bijak dan berkelanjutan. Dengan restorasi dan pariwisata yang dikelola baik, manfaat ekologis dan sosial dari terumbu karang yang sehat dan indah dapat terus terjaga, sekaligus membantu komunitas yang menggantungkan hidup pada wisata laut dan mendorong lebih banyak pihak untuk peduli pada laut.