Indonesia merupakan salah satu produsen udang terbesar di dunia. Namun, pencapaian itu dibayangi dampak lingkungan, terutama hilangnya hutan mangrove akibat pembukaan lahan tambak. Dalam kurun 1980 hingga 2005, Indonesia disebut telah kehilangan sekitar seperempat hutan mangrovenya, sebagian besar karena ekspansi tambak baru.
Selama bertahun-tahun, salah satu solusi yang kerap ditawarkan adalah silvofishery, yakni penanaman mangrove di dalam tambak udang untuk memulihkan hutan sekaligus mendukung budi daya. Namun, riset terbaru di Berau, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa hubungan mangrove dan produktivitas tambak tidak sesederhana yang selama ini diasumsikan.
Dalam riset yang menggabungkan pengamatan lapangan mendalam dan data satelit, peneliti menelusuri keterkaitan antara kondisi mangrove dan tambak udang tradisional. Hasilnya menegaskan bahwa lokasi penanaman dan kerapatan pohon menjadi faktor penentu: mangrove bisa mendukung produksi udang, tetapi hanya bila ditempatkan dan dikelola dengan tepat.
Salah satu temuan utama riset tersebut adalah penanaman mangrove yang terlalu banyak dan rapat di dalam area tambak justru berkorelasi dengan turunnya hasil panen. Setiap kenaikan 10% luas mangrove di dalam tambak dikaitkan dengan penurunan produksi udang sekitar 0,7%.
Fenomena ini sejalan dengan praktik sebagian petambak yang, berdasarkan pengamatan lapangan, kerap menebang kembali mangrove di tambak setelah 3–5 tahun. Kajian ilmiah dalam riset tersebut memberikan penjelasan: mangrove yang padat menghasilkan serasah daun dalam jumlah besar yang dapat melepaskan tanin dan senyawa lain sehingga menurunkan kualitas air. Pembusukan daun juga menyerap oksigen terlarut yang dibutuhkan udang. Selain itu, kanopi yang terlalu lebat dapat mengurangi cahaya matahari, sehingga menekan pertumbuhan plankton dan alga yang menjadi sumber pakan alami udang.
Meski demikian, riset itu tidak menyimpulkan bahwa mangrove dan udang tidak bisa berdampingan di dalam tambak. Peneliti menemukan bahwa mangrove dengan kepadatan rendah—kurang dari 1.000 pohon per hektare—justru dikaitkan dengan peningkatan produksi udang sekitar 2,1%. Kepadatan yang lebih jarang dinilai masih memberi naungan dan tambahan nutrisi tanpa membebani sistem tambak.
Temuan lain yang ditekankan riset tersebut adalah pentingnya mangrove di luar area tambak. Hutan mangrove yang sehat dan berkepadatan tinggi di sempadan tambak, yang berfungsi sebagai sabuk hijau, dinilai paling efektif meningkatkan produktivitas. Setiap peningkatan 1% tutupan mangrove padat di sempadan 100 meter di luar tambak dikaitkan dengan kenaikan produksi udang sebesar 0,25%. Sebaliknya, berkurangnya mangrove di sempadan berhubungan dengan turunnya produktivitas.
Sabuk hijau mangrove disebut bekerja sebagai penyangga alami: menyaring polutan, menahan nutrien berlebih, dan membantu menjaga kualitas air sebelum masuk ke tambak. Sistem perakaran mangrove juga memperkuat tanggul, meredam riak air untuk mencegah erosi, serta menyediakan habitat bagi udang, ikan, dan kepiting, yang pada akhirnya mendukung kesehatan ekosistem pesisir.
Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi yang diajukan menekankan pemulihan mangrove di tambak aktif sebaiknya memprioritaskan penanaman di luar area tambak, bukan di dalam. Selain itu, karena sabuk hijau terbukti mendukung produktivitas, petambak dinilai memiliki peluang untuk mengurangi ukuran tambak demi memberi ruang bagi mangrove tanpa harus kehilangan pendapatan.
Prinsip ini sedang diuji melalui program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) yang dijalankan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Program tersebut mengelola lebih dari 20 tambak percontohan dengan dukungan berbagai pihak serta melibatkan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Berau. Dalam uji coba, ukuran tambak diperkecil agar mangrove dapat pulih secara alami, dengan tujuan membuktikan bahwa tambak yang lebih kecil tetapi dikelilingi mangrove sehat dapat menghasilkan panen setara, bahkan lebih tinggi.
Hasil awal uji coba disebut cukup menggembirakan. Setelah tiga tahun, petambak peserta SECURE memanen rata-rata 140 kilogram udang per tambak per tahun. Angka ini mendekati panen tambak konvensional di wilayah yang sama, sekitar 160 kilogram, meskipun lebih dari separuh area tambak telah dialihkan untuk restorasi. Uji coba tersebut masih terus disempurnakan, dengan perkiraan hasil panen dapat menyamai atau melampaui tambak konvensional.
Riset dan uji coba ini mengarah pada kesimpulan bahwa petambak tidak harus memilih antara mata pencaharian dan konservasi. Dengan menempatkan mangrove di lokasi yang tepat—membatasi kepadatan di dalam tambak dan memperkuat sabuk hijau di luar tambak—pemulihan hutan pesisir dinilai dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas, kesehatan ekosistem, dan ketangguhan masyarakat pesisir.