BERITA TERKINI
Riset Bioavtur Sawit dengan Katalis Bimetal Masuk Uji Skala Laboratorium

Riset Bioavtur Sawit dengan Katalis Bimetal Masuk Uji Skala Laboratorium

Tim peneliti dari sejumlah universitas di Indonesia mengembangkan bahan bakar penerbangan nabati (bioavtur) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dengan teknik sintesis satu wadah pada kondisi atmosferik. Inovasi ini memanfaatkan katalis bimetal bermatriks karbon dan zeolit untuk mengonversi CPO menjadi bahan bakar pesawat yang ditargetkan memiliki titik beku rendah.

Dalam dokumen Grant Riset Sawit 2024 Ringkasan Penelitian, proyek bernomor kontrak PRJ-365/DPKS/2022 menargetkan spesifikasi teknis titik beku maksimal pada minus 47 derajat Celsius. Pengembangan dilakukan melalui penggunaan katalis heterogen seperti Mordenit (Mor) serta varian bimetal yang memadukan unsur nikel, kobalt, hingga tungsten untuk meningkatkan efisiensi reaksi kimia.

Pengujian di laboratorium menunjukkan penggunaan katalis bimetal menghasilkan produk dengan performa tinggi. Analisis kromatogram juga disebut memperlihatkan kemiripan struktur kimia produk dengan standar bahan bakar penerbangan komersial yang digunakan saat ini.

Skala riset telah ditingkatkan dengan penggunaan reaktor berkapasitas 500 mililiter hingga 1.000 mililiter. Peningkatan ini ditujukan untuk menguji aktivitas katalis pada volume sekitar 10 kali lipat dibanding skala laboratorium awal.

Luaran riset yang dicatat meliputi pengembangan berbagai varian katalis heterogen berbasis zeolit dan karbon aktif, pendaftaran 10 nomor paten, serta publikasi artikel ilmiah pada sejumlah jurnal internasional bereputasi. Tim juga melaporkan capaian titik beku produk yang lebih rendah dibanding standar avtur.

Riset ini dipimpin Prof. Dr. Wega Trisunaryanti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan kolaborasi pakar dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Universitas Sriwijaya (UNSRI). Program penelitian tersebut mendapatkan dukungan pendanaan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dari sisi karakteristik fisik, hasil uji densitas produk tercatat 0,7929 gram per mililiter pada suhu 15 derajat Celsius. Sementara itu, pengujian titik beku menunjukkan variasi: avtur standar berada pada minus 54,7 derajat Celsius, produk bioavtur inovasi dilaporkan mencapai minus 65,7 derajat Celsius, dan pengujian lainnya mencatat kisaran minus 51 hingga minus 55 derajat Celsius.

Tahap riset berikutnya akan berfokus pada optimasi kondisi reaksi untuk menjaga stabilitas produksi pada volume yang lebih besar. Tim menilai capaian ini dapat menjadi dasar pengembangan teknologi energi terbarukan berbasis hilirisasi kelapa sawit.