BERITA TERKINI
Riset ABK Primaniyarta: Mayoritas Pengguna Internet di Indonesia Mengaku Belum Pernah Menggunakan AI

Riset ABK Primaniyarta: Mayoritas Pengguna Internet di Indonesia Mengaku Belum Pernah Menggunakan AI

Riset tiga akademisi dari Akademi Bisnis dan Keuangan Primaniyarta (ABK Primaniyarta) menemukan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia masih terbatas, meski penetrasi internet tergolong tinggi. Analisis tersebut mengacu pada Survei Profil Internet Indonesia 2025 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

Dalam riset berjudul “Behavior of Accessing Artificial Intelligence (AI) Content in Indonesia: Descriptive Analysis Based on APJII 2025 Secondary Data”, Meykel Djuuna, Fricy Rumintjap, dan Benhard Lanto mencatat hanya sekitar 27% pengguna internet yang menyatakan pernah menggunakan layanan atau konten berbasis AI. Sementara itu, 73% responden mengaku belum pernah menggunakan AI.

Temuan ini dinilai menunjukkan adanya jarak antara konektivitas digital dan adopsi teknologi pintar. Dengan jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221,56 juta jiwa atau sekitar 79,5% dari total penduduk, tingkat penggunaan AI yang masih rendah mengindikasikan Indonesia masih berada pada tahap awal adopsi AI. Para peneliti menilai literasi digital tingkat lanjut, khususnya pemahaman tentang AI, masih menjadi tantangan.

Riset tersebut juga memetakan jenis konten AI yang paling sering diakses oleh pengguna yang sudah memanfaatkannya. Konten pendidikan dan pembelajaran menempati porsi terbesar, yakni 48,98%. Artinya, hampir separuh pengguna AI memanfaatkan teknologi ini untuk membantu belajar, mencari informasi, atau memahami materi tertentu.

Konten hiburan berada di urutan berikutnya dengan 29,52%, misalnya pembuatan gambar berbasis AI, penggunaan filter visual, atau produksi konten kreatif lainnya. Adapun penggunaan AI sebagai asisten virtual tercatat 13,48%, sementara pemanfaatan untuk produktivitas kerja seperti menyusun laporan atau menganalisis data berada di angka 12,37%.

Menurut para peneliti, pola tersebut lazim pada fase awal adopsi teknologi, ketika masyarakat cenderung mencoba fitur yang manfaatnya langsung terasa dan mudah dipahami. Sebaliknya, penggunaan untuk pekerjaan dan produktivitas dinilai memerlukan pemahaman yang lebih mendalam serta tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap teknologi.

Soal alasan belum menggunakan AI, data APJII menunjukkan faktor dominan berkaitan dengan pengetahuan, yakni “tidak tahu apa itu AI” dan “tidak tahu cara menggunakan AI”. Hambatan kognitif dan literasi ini dinilai lebih menonjol dibanding faktor teknis seperti infrastruktur maupun isu keamanan.

Para peneliti menilai temuan tersebut penting karena mengindikasikan tantangan utama terletak pada pemahaman masyarakat. Mereka menekankan, tanpa pengetahuan dasar tentang AI, masyarakat cenderung tidak terdorong untuk mencoba atau memanfaatkannya, sehingga literasi AI menjadi fondasi sebelum adopsi dapat meluas.

Riset ini juga mencatat adanya perbedaan penggunaan AI berdasarkan demografi. Generasi muda, terutama Gen Z, tercatat lebih banyak menggunakan AI dibanding kelompok usia lebih tua. Selain itu, responden laki-laki menunjukkan tingkat penggunaan yang sedikit lebih tinggi dibanding perempuan.

Para peneliti mengingatkan, jika tidak diantisipasi, perbedaan tersebut berpotensi memunculkan bentuk baru kesenjangan digital berbasis AI. Kelompok yang lebih cepat mengadopsi AI berpeluang memperoleh manfaat lebih besar dalam ekosistem digital, sementara kelompok yang tertinggal dapat menghadapi hambatan baru.

Dari temuan itu, riset menekankan bahwa pembangunan infrastruktur internet saja tidak cukup. Perhatian dinilai perlu diperluas pada peningkatan literasi AI, dimulai dari pemahaman dasar dengan bahasa yang sederhana dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, pendekatan yang inklusif dinilai penting mengingat adanya kesenjangan antargenerasi dan gender.

Riset ABK Primaniyarta tersebut menggambarkan posisi Indonesia dalam adopsi AI: akses internet sudah menjangkau mayoritas penduduk, namun pemanfaatan AI masih terbatas. Para peneliti menilai kondisi ini merupakan fase yang wajar dalam transformasi digital, tetapi memerlukan intervensi yang tepat agar kesenjangan literasi AI tidak semakin melebar.