Renungan Harian Katolik Senin, 27 April 2026, mengajak umat meneladani kepemimpinan yang penuh kasih, perhatian, dan pengorbanan, termasuk dalam ruang digital yang kian melekat pada kehidupan sehari-hari. Pesan renungan menekankan bahwa tantangan era teknologi bukan semata-mata soal menjauh dari gawai, melainkan memakai teknologi secara bijak agar kasih, tanggung jawab, dan kepedulian tetap hadir dalam setiap relasi, baik langsung maupun virtual.
Renungan hari itu merujuk pada bacaan Injil Yohanes 10:11-18 yang menampilkan gambaran Yesus sebagai “Gembala yang baik” yang rela memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya. Dalam kutipan Yohanes 10:14, ditegaskan, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” Relasi saling mengenal ini dipahami sebagai dasar hubungan yang erat, penuh kepercayaan, dan kesediaan untuk mengikuti tuntunan Tuhan.
Dalam Bacaan I Kisah Para Rasul 11:1-18, diceritakan bagaimana Petrus menjelaskan penglihatannya dan pengalaman ketika Roh Kudus turun atas bangsa-bangsa lain. Peristiwa itu membuat para rasul dan saudara-saudara di Yudea akhirnya menerima bahwa “kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
Mazmur Tanggapan dari Mazmur 42:2-3 dan 43:3-4 mengungkap kerinduan mendalam kepada Allah: “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.” Seruan itu dipadukan dengan permohonan akan terang dan kesetiaan Tuhan untuk menuntun umat ke “gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu.”
Bagian renungan kemudian menyoroti fenomena anak-anak yang semakin sibuk dengan gadget sehingga relasi dengan Tuhan dan keluarga kerap terabaikan. Kebiasaan itu disebut phubbing, istilah gabungan dari phone dan snubbing, yang menggambarkan tindakan mengabaikan orang lain karena terlalu fokus pada ponsel. Renungan menyebut istilah ini diperkenalkan oleh Alex Haigh dari Australia.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, penulis renungan menceritakan pengalamannya melihat situasi makan bersama di keluarga keponakan yang didominasi penggunaan ponsel masing-masing. Ia kemudian menasihati agar ponsel diletakkan terlebih dahulu saat makan. Disebutkan bahwa setelahnya, keluarga tersebut berupaya meninggalkan ponsel ketika berkumpul, tetap berdoa sebelum dan sesudah makan, serta meluangkan waktu untuk percakapan ringan.
Renungan menegaskan panggilan bagi orang tua untuk belajar dari teladan Yesus: mengenal anak-anak secara pribadi dengan sikap merangkul dan mendengarkan, bukan dengan pendekatan otoriter. Alih-alih melarang penggunaan gadget, orang tua diajak mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak agar relasi timbal balik tetap terbangun—orang tua mengenal anak-anaknya, dan anak-anak mengenal orang tuanya—sebagaimana umat diajak mengenal Tuhan secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari.
Di bagian penutup, renungan mengajak keluarga, komunitas Gereja, dan lingkungan sekitar untuk saling mengenal dan membangun relasi yang baik. Doa penutup memohon bimbingan Allah Bapa bagi para orang tua agar mampu mendidik dan mengenal anak-anak dengan tanggung jawab serta cinta kasih, meneladani kasih Yesus kepada umat-Nya.